BORNEONEWS, Kota Batu - Agrowisata petik apel yang terletak di Dusun Junggo, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Bumi Aji, Batu Malang, Provinsi Jawa Timur mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. Pendapatan petani meningkat seiring dengan jumlah wisatawan yang terus bertambah.
Peningkatan pendapatan itu juga berdampak pada masyarakat yang menggeluti usaha asongan atau pedagang kaki lima. Tidak hanya mereka, sopir jip dan bus yang mengantar wisatawan menuju agrowisata juga turut terdampak.
"Memang ada peningkatan. Kalau kunjungan perhari rata-rata 100 sampai 200 orang. Bahkan, kalau pas liburan, pernah ada pengunjung dalam satu jam secara bersamaan 1000 orang," ujar pemandu wisatawan di kebun tersebut, Kuswantono, Selasa, 12 September 2023.
Dia menuturkan, peningkatan ini juga tidak lepas dari langkah pelaku usaha wisata dalam menggandeng para petani apel. Dia menyebut, total kebun apel antara 300 sampai dengan 400 hektare. Semuanya milik petani di desa tersebut.
"Kemudian, petani kerja sama dengan pelaku wisata dan ada kesepakatan. Misalnya, 1 ton (apel) harga di pasaran Rp8-9 ribu per kilogram, sedangkan dengan pelaku wisata Rp10 ribu per kilogram," ungkapnya.
--page
Sambil mengingat, bapak dua anak itu mengatakan, sebagian dari ratusan hektare itu merupakan peninggalan leluhur di era 1970-1990an. Namun, sebagian lainnya kala itu masih belum terawat atau dalam kondisi hutan. Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut menjadi ladang pertanian apel hingga layak dinobatkan sebagai agrowisata.
Meski demikian, tidak mudah bagi petani untuk mengembangkan tanaman apel. Perlu kerja keras, telaten dan perawatan secara rutin, didukung dengan pupuk yang memadai. Tidak hanya itu, petani juga harus menerima pahitnya penghasilan yang turun drastis ketika badai Covid-19 melanda Indonesia.
Ya, di tahun 2020, pemerintah pusat mengeluarkan keputusan untuk menutup sementara tempat wisata demi menekan penyebaran Covid-19. Di saat itulah, tidak ada satupun wisatawan datang. Kondisi ini sudah pasti memengaruhi pendapatan petani.
"Jadi hampir dua tahun waktu itu tutup. Nah, sekarang kembali ramai. Dampaknya juga tidak ke petani saja, tapi juga ke pedagang asongan dan lainnya," ujarnya.
Laki-laki berusia 50 tahun ini berharap, agro wisata tersebut terus berkembang. Pemerintah juga diharapkan terus memperhatikan petani, salah satunya bisa membantu menyediakan pupuk karena harga pupuk disebutnya mahal.
--page
Sementara itu, Sukadi (40), pedagang cilok juga mengakui naiknya pendapatan. Dia bahkan menyebut omzetnya lebih besar dari pada berjualan di kawasan perkampungan. "Iya mas, omzetnya kalau jualan di sini lebih besar. Kalau berjualan di kampung sendiri, biasanya hanya Rp200 ribu dalam satu dandang. Sekarang bisa saya dapatkan Rp400 sampai Rp500 ribu," katanya.
Hal serupa juga dirasakan Manda (23), sopir jip yang selalu mengantar wisatawan menuju agrowisata. Pekerjaan yang ia geluti ini disebutnya sebagai penghasilan tambahan. Sekali mengantar, mendapatkan bayaran Rp300 ribu. Manda berharap, pemerintah bisa memperhatikan mereka, setidaknya menyubsidi bahan bakar jenis pertalite.
Tidak hanya mereka, Yasin (45), pedagang es jeruk juga merasakan hal itu. Dia mengatakan, pendapatan jauh lebih besar dibanding berjualan di kawasan alun-alun. Di situ, ia biasanya memulai berjualan sejak pukul 15.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB, kadang juga lebih. Itu-pun jumlah jeruk yang habis sekitar 8 kilogram.
"Nah sekarang, saya bawa 60 kilogram, bisa habis dalam 2 jam (ketika ramai wisatawan). Jadi, memang berdampak sekali ke pendapatan saya. Wisatamu, rezekiku," kata Yasin sambil tersenyum lebar.
Sekadar diketahui, Bang Indonesia Kalteng menggelar Forum Komunikasi Media menuju Kota Batu dengan membawa puluhan wartawan dari 27 media yang diundang. Ada juga organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalteng. Kegiatan dimulai Senin, 11 September 2023 sampai dengan Rabu, 13 September 2023.
Di situ, wartawan mendapatkan wawasan materi penulisan jurnalistik. Selanjutnya, mengunjung agrowisata tersebut, berikut fun offroad hutan pinus dan petik apel. Di kesempatan ini, juga diadakan lomba menulis. Temanya, 'memulihkan perekonomian dengan sektor pariwisata'.
(BUDI/Y)









