LIMA armada bantuan yang dijanjikan Pemerintah Jepang melalui Ehime Toyota untuk Pemkot Palangka Raya hingga kini belum datang. Padahal rencananya bantuan itu akan datang di pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada November 2015 lalu. Lima armada itu berupa empat unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit ambulan.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kota Palangka Raya Anwar Sanusi Umarnur mengatakan ada kendala terkait perizinan yang harus diselesaikan di Kementerian Dalam Negeri. Sehingga pihaknya bolak-baik ke Jakarta untuk mengurus nota kesepakatan (MoU).


“Memang harusnya November tahun lalu sudah datang ke sini. Cuma ada kendala aturan dari pusat, adanya penerapan UU yang harus melalui birokrasi pusat. Padahal sebelumnya tidak ada itu. Bantuan dari Jepang langsung ke kabupaten masing-masing. Kita pun langsung ke pelabuhan Banjarmasin,” ungkap Anwar kepada Borneonews, Rabu (13/4).


Diceritakan Anwar, setiap bantuan hibah, harus penuhi prosedur pusat. Dalam UU itu mengatur, kalau hibah berupa armada damkar, kewenangannya ada di Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri. 


Kalau bantuan ambulans, maka harus urus di Kemenkes, sementara mobil sampah harus urus di Dirjen Cipta Karya. Prosedur yang harus dilewati itulah 


“Bantuan itu sudah ada dan siap di Pelabuhan di Jepang, tinggal kirim saja. Bayangkan saja Jepang itu bagaimana pusingnya. Mau bantu atau hibahkan saja harus lewati tiga kementerian. Inilah yang membuat mereka merasa enggan sebenarnya,” ungkapnya.


“Pemerintah Jepang sudah memperingati kalau Pemerintah Indonesia susah merima hibah karena berbelit. Kalau terus demikian, mereka akan alihkan ke Vietnam. Sebaab pemerintah Vietnam itu mau langsung terima. Jangankan lewat pemerintahan negaranya, lewat pintu administrasi kabupaten atau kecamatan saja mau terima kok mereka. Kita kan enggak,” tutur Anwar.


Karena bantuan 53 unit (untuk se-Indonesia) masih tertahan, lanjutnya, berakibat bantuan gelombang berikutnya juga tertahan masuk pelabuhan jepang. Padahal di pengiriman gelombang kedua itu, juga ada beberapa unit bantuan lagi untuk Pemkot Palangka Raya.


“Itu hibanh betulan. Kita hanya sediakan ongkos kirim saja ke sini.Kita sediakan anggaran sekitar Rp 120 juta saja untuk lima unit itu. Kira-kira tiga mingguan-lah waktu kirim dari pelabuhan Jepang hingga sampai di kita. Ya kita tunggu saja lah,” pungkasnya. 

(RZ/B-12)