BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Relawan yang berkomitmen mengembangkan taman bacaan masyarakat (TBM) bisa dikatakan memiliki peran penting untuk memajukan keberadaannya. 


Bila kegiatan itu hanya ditangani oleh satu orang saja, tentunya kegiatan akan tersendat dan menghambat kemajuan. Demikian diungkapkan Muhammad Yusup, 32, pendiri Rumah Pintar Sanggar Rahmat Abah Jalan HM Taher, RT 12 RW 4, Kelurahan Kumai Hilir, Kecamatan Kumai, Kamis (14/4/2016).


"Kesimpulan ini didapatkan dari perbandingan waktu saya masih sendirian mengembangkan rumah pintar dan mendapat bantuan dari relawan. Mereka adalah para premaja yang menjadi peserta belajar di rumah pintar ini," jelas pemuda yang biasa disapa dengan nama Hamid ini.


Menurut dia, eberadaan beberapa relawan yang turut menyumbangkan tenaga dan ilmu pengetahuan di rumah pintar yang dikembangkannya, sangat meringankan beban yang dipikulnya. 


"Contohnya saat saya mengikuti pelatihan pengembangan perpustakaan di Kantor Perpustakaan dan Arsip daerah (KPAD) Kobar. Saya sempat mencetuskan apakah selama saya mengikuti pelatihan rumah pintar ini harus ditutup sementara, namun para relawan menolak. Mereka mengatakan akan mengambilalih tanggung jawab kegiatan belajar mengajar selama saya tidak ada. Tentunya hal itu membuat saya menjadi bangga," jelasnya.


Selain itu, lanjutnya, relawan dari pihak luar juga saat ini mulai turut membantu rumah pintarnya. “Saat ini kami membuka program belajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pengajarnya adalah keluarga saya dan seorang teman yang tergerak untuk menjadi relawan tenaga pengajar sukarela." jelasnya. (WAHYU KRIDA/m)