SEJUMLAH elemen ma­syarakat dari Kal­sel dan Kalteng me­nggugat PT PLN Kalselteng karena dinilai ti­dak bisa memberikan pe­layanan kelistrikan sesuai harapan.


Gugatan itu disampaikan­ melalui pernyataan sikap sa­at aksi unjuk rasa dimoto­ri pengurus Komite Nasio­na­l Pemuda Indonesia (KNPI) dan organisai lain­nya­, Rabu (13/4/2016).


“Kami minta ada perbaik­an soal kelistrikan di Kal­sel­ dan tidak ada lagi lis­tri­k nyala lalu padam,” ujar Ketua KNPI Kalsel, Ha­san Ismail.

Dia mengatakan Kalsel me­miliki sumber daya alam berupa batubara yang menjadi sumber ba­han baku utama, tapi man­faatnya sebagai sumber­ listrik dirasakan pihak luar.


Dijelaskan, batubara asal Kalsel diolah PLN men­jadi sumber energi listrik di Jawa, sehingga ke­listrikannya mantap, se­dangkan di Kalsel justru sering ada pemadaman.


“Ini semua merupakan si­kap tidak adil yang ditun­jukkan pemerintah karena daerah penghasil bahan ba­kar untuk operasional PLTU justru tidak merasa­kannya,” ucapnya.


Dalam orasinya dia me­min­ta PT PLN Kalselteng memfasilitasi keinginan masyarakat menyampai­kan­ gangguan kelistrikan yang seringkali dialami dan terus terulang.


“Kami minta pimpinan PLN bisa memfasilitasi agar bisa mengadukan gangguan kelistrikan ke Ke­mentrian ESDM, bahka­n kalau perlu ke presiden,” ujarnya.


General Manager PT PLN Kalselteng, Purnomo di­minta menandatangani persetujuan memfasilitasi­ pertemuan dengan peme­rin­tah pusat.


“Kami siap memfasilitasi­ pertemuan dan berupaya membantu agar bisa mene­mui pejabat terkait, na­mun­ soal kapan waktunya disesuaikan kesediaan me­reka,” ujarnya.


Aksi yang digagas Aliansi Jaringan Anak Kalimantan­ (AJAK) diikuti sejumlah elemen mahasiswa yang jum­lahnya sekitar 30 orang dan dikawal ratus­an­ polisi.


Aksi yang berlangsung pu­kul 11.00 Wita dan ber­akhir pukul 14.00 Wita itu berjalan tertib meski sem­pat diwarnai saling do­rong. (ANT/B-6)