BORNEONEWS, Seruyan - Sekitar 10 kilometer kondisi jalan penghubung antar ecamatan dan desa di kawasan pemukiman eks transmigrasi Kecamatan Seruyan Hilir Timur, saat ini mengalami kerusakan cukup parah. Banyak pengendara enggan untuk melintasi akses jalan yang masih berupa tanah liat tersebut.
“Sekitar 1o kilometer jalan itu sekarang kondisinya rusak karena sering diguyur hujan lebat yang membuat struktur badan jalan yang masih tanah liat itu menjadi labil atau cepat rusak,” kata Edianto, 45, warga Desa Halimaung Jaya (eks transmigrasi) kepada Borneonews di lokasi desanya, Jum’at (15/4/2016).
Kerusakan terparah, lanjut dia, terutama pada jalur penghubung mulai Desa Halimaung Jaya hingga Desa Tanggul Harapan.
“Kondisi badan jalan itu saat ini licin dan permukaannya banyak yang tidak rata, ditambah munculnya kubangan lumpur,” ujarnya.
Padahal sebelumnya, tingkat kerusakan jalan penghubung itu tidak terlalu parah seperti sekarang karena masih bisa dilalui kendaraan berkecepatan sedang. Meskipun harus dihadapkan pada risiko amblas pada ban kendaraan, khususnya pengendara mobil.
“Saat ini banyak pengendara enggan melintasi akses jalan itu. Hingga membuat sejumlah warga desa lebih memilih memanfaatkan jalur sungai dengan menggunakan klotok atau perahu kecil,” terangnya.
Ia menambahkan, karena kondisi jalan penghubung di kawasan eks transmigrasi yang masih berupa tanah liat tersebut, membuat sejumlah petani pisang hanya bisa mengangkut hasil panennya melalui sungai untuk dijual ke penampung (pembeli). Sementara dari pihak penampung yang datang ke lokasi desa, terpaksa hanya bisa memarkir mobilnya pada titik lokasi jalan yang dinilai nyaman dilalui.
“Sopir pick up tidak berani menuju lokasi pertanian, karena harus melintasi jalan yang rusak. Karena sopir takut amblas, membuat petani pisang memilih mengangkut panennya lewat sungai untuk bisa melakukan transaksi jual beli pisang,” ungkapnya.
Sementara itu, mengenai penanganan infrastruktur penghubung, Bupati Seruyan Sudarsono menegaskan, tahun 2016 ini Pemkab Seruyan tetap mencanangkan program itu masuk skala prioritas utama yang kembali dilanjutkan.
Sebab, menurut dia, sebagus apapun potensi yang dimiliki suatu daerah, apabila infrastrukturnya tidak memadai maka hasil yang diperoleh untuk peningkatan perekonomian masyarakat tidak akan maksimal tercapai.
“Skala prioritas ini yang harus bisa kita kedepankan. Mulai dari pembangunan infrastruktur, kemudian dilanjutkan untuk pembangunan bidang pertanian, pendidikan, kesehatan dan program penunjang lainnya untuk masyarakat,” kata Sudarsono. (PARNEN/m)


