Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim)menyebutkan jumlah kasus penyakit yang dipicu oleh rokok di daerah ini cukup tinggi. “Ini yang menjadi keprihatinan kami karena penyakit akibat rokok juga tinggi, seperti jantung coroner dan stroke,” kata Kepala
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim dr Faisal Novendra Cahyanto saat ditemui di kantornya, Kamis (15/4/2016).
Ia melanjutkan berdasarkan asil survei Kementerian Kesehatan, saat ini ada sekitar 65 juta perokok aktif di Indonesia. Meski tidak menyebut jumlah pasti, Faisal menyebutkan Kotawaringin Timur termasuk salah satu daerah yang jumlah perokok aktifnya cukup tinggi.
“Dinas Kesehatan melalui puskesmas dan seluruh petugas kesehatan, terus mengajak masyarakat untuk tidak merokok. Selain merusak kesehatan perokok aktif, asap rokok juga sangat membahayakan keselamatan perokok pasif atau orang yang tidak sengaja terhirup asap rokok dari perokok aktif,” terang dia.
Masyarakat yang saat ini masih menjadi perokok, diimbau untuk sadar dan segera berhenti merokok. Dari sisi ekonomi, merokok juga cukup menguras keuangan yang seharusnya bisa dialihkan untuk membeli kebutuhan rumah tangga yang jauh lebih bermanfaat.
“Daripada membeli rokok, uangnya lebih baik digunakan untuk membayar premi JKN (jaminan kesehatan nasional). Tidak merokok satu bungkus saja per harinya, uangnya jika dikumpulkan bisa membayar premi JKN satu keluarga tiap bulan. Kepesertaan JKN di Kotim ini masih rendah, tapi angka perokok tinggi. Daripada membeli rokok, mending beli buah, ikan dan susu anak,” kata Faisal.
Pemberlakuan larangan merokok di tempat-tempat tertentu seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah dan tempat publik lainnya, harus terus diberlakukan. Faisal juga mengimbau seluruh petugas kesehatan untuk menjadi contoh dengan tidak merokok. (ANT/B-8)


