BANJIR bandang akibat meluapnya Sungai Barito yang merendahkan 11 desa di Kecamatan Kapuas Murung mengakibatkan perekonomian masyarakat lumpuh. Praktis, saat ini ribuan jiwa butuh bantuan makanan.
“Hampir 20 hari ini belum ada bantuan dari pemrintah daerah, padahal kami sudah menyurati untuk minta sembako, tapi belum ada,” kata Try Purwanti, Kepala Desa A7 Bina Sejahtera saat dikonfirmasi Borneonews, Jumat (15/4/2016).
Ia menjelaskan semua lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat terendam banjir, termasuk rumah warga.
Khusus warga A7 Desa Sumber Sejahtera ada 125 KK yang terancam kelaparan, karena stok pangan yang dimiliki makin menipis akibat semua aktivitas lumpuh, sehinggga tidak ada pemasukan bagi warga untuk memenuhi kebutuhan setiap hari.
Try menjelaskan sebelum banjir warga biasanya memanen hasil pertanian, tapi belum selesai dipanen habis terendam.
Untuk omset warga dalam sehari bisa mencapai Rp50 juta, tapi untuk sekarang tidak ada lagi yang diharapkan, kecuali bantuan dari Pemkab Kapuas.
“Untuk penghasilan warga dari hasil pertanian holtikultura tanam lombok 10 hektare mencapai 25 Kg pasca panen sehari bisa 2 ton, tapi sekarang tidak bisa akibat banjir. Warga tidak bisa panen dan hanya menunggu bantuan,” imbuhnya.
Ditambahkan, untuk aktivitas sekolah terpaksa harus belajar di masjid dan balai desa, karena sekolah mereka juga terendam.
Ada pula sebagian sekolah diliburkan karena persiapan untuk ujian. Warga juga mengancam bila dalam waktu dekat belum ada bantuan maka akan turun ke Kapuas untuk melakukan aksi minta bantuan di bundaran.
“Kita akan turun ke kota untuk melakukan aksi minta sumbangan kepada warga yang melintas di bundaran, kalau tidak ada respon dari bupati,” tegasnya. (B-6)


