PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Katingan mengaku belum tahu ada proyek cetak sawah di daerah tersebut yang bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Demikian dikatakan Wakil Bupati Katingan Sakariyas saat melakukan kunjungan ke Kecamatan Pulau Malan terkait proyek cetak sawah itu, Kamis (14/4/2016) sore.
Selain di Desa Manduing Taheta, orang nomor dua di Katingan yang saat itu didampingi Irdam XII/Tpr Kolonel Inf Didied Pramudito, juga meninjau cetak sawah Desa Tumbang Banjang.
“Yang jelas saya tidak tahu kalau ada proyek cetak sawah di sini,” sebut Sakariyas.
Menurutnya, semestinya jika ada proyek sebesar ini terlebih dahulu dilakukan sosialisasi dengan pemerintah daerah. “Terus terang saya juga kaget, kok tiba-tiba ada program cetak sawah dengan luasan yang cukup besar di wilayah kita ini. Sehingga kalau mau minta penjelasan, maaf saya tidak tahu.”
Dalam kesempatan itu Didied Pramudito mengatakan, sumber pendanaan pencetakan sawah baru itu berasal dari APBN Perubahan tahun 2015 senilai Rp353 miliar.
Menurutnya, total luasan pencetakan sawah baru di Pulau Malan 1.000 ha tersebar di 13 desa.
Setiap desa punya luasan yang beragam, untuk Manduing Taheta sekitar 265 ha dan Tumbang Banjang 250 ha dengan lokasi terpisah. Pelaksanaan proyek ini menggandeng Korps Zeni TNI AD dengan mekanisme swakelola.
Program cetak sawah tahun 2016 dilaksanakan di sembilan provinsi dan 11 kabupaten, terbesar berada di Kabupaten Merauke 10.000 ha.
“Anggaran sebesar itu untuk penyiapan sawah seperti land cleaning dan Amdal,” tutupnya.
Di lain pihak, Kepala Desa Tumbang Banjang Sumarli membenarkan masuknya proyek cetak sawah baru di wilayah desanya.
Namun, katanya, sosialisasinya minim, sehingga menimbulkan permasalahan baru. Misalnya soal pembuatan pintu air irigasi.
Pasalnya anak sungai yang biasa dimanfaatkan masyarakat untuk transportasi air seperti jukung saat ini terganggu seiring adanya bangunan pintu air tersebut. (GP/B-5)




