KEPALA Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Pertanian,perikanan dan peternakan (Disperkanak) Kota Palangka Raya Sugiyanto menjamin daging sapi yang diperjualbelikan di ‘Kota Cantik’ bebas dari penyakit.
Namun demikian, ia tetap mengingatkan peternak mengenai dua jenis penyakit hawan yang berpotensi menyerang ternak sehingga patut diwaspadai.
Dua jenis penyakit itu yakni brucellosis dan anthrax. Ia menyebut dua jenis penyakit itu bersifat menular ke manusia. Bahkan untuk anthrax, sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian.
“Tetapi dari zaman dahulu sampai sekarang, anthrax tidak pernah terjadi di sini. Yang pernah itu cuma di daerah Sulawesi Selatan,” kata Sugiyanto saat ditemui Borneonews di ruang kerjanya, Jumat (15/4/2016).
Sedangkan untuk penyakit burcellosis, sambungnya, pernah terjadi di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sebangau pada 2012.
Meski bersifat menular, jenis penyakit ini tidak mematikan. Walaupun demikian, sapi yang terserang burcellosis harus segera dieksekusi.
Daging sapi yang terjangkit burcellosis masih bisa dikonsumsi manusia, kecuali pada bagian tertentu.
“Pada 2012 ada dua ekor sapi yang terkena brucellosis yakni di Kelurahan Kalampangan. Jadi langsung dieksekusi atau dipotong.
Penyakit itu hanya di bagian reproduksinya. Ketika dipotong, daging lain masih bisa dimakan. Sedangkan reproduksinya harus dibuang. Beda dengan antrhax. Kalau sapi sudah kena penyakit antrhax tidak boleh dimakan,” sebut Sugiyanto.
Menurut dia, daging sapi di Palangka Raya dijamin bebas dari penyakit lantaran sebelum sampai di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah ini sudah menjalani pemeriksaan di daerah asal dan petugas karantina hewan.
Lalu, ketika masuk ke Kota Palangka Raya, petugas kembali melakukan pemeriksaan. Setelah dinyatakan sehat baru boleh dipasarkan. “Jadi pemeriksaannya juga ketat,” tutur Sugiyanto.
(B-3)


