BORNEONEWS, Sampit -  Kabupaten Kotawaringin Timur hingga saat ini masih sangat kekurangan daging untuk mewujudkan swasembada daging. Untuk mencapai swasembada daerah itu memerlukan sedikitnya 30 ribu ekor sapi.

"Kita memang masih banyak kekurangan daging. Kalau mau swasembada, kita harus punya sekitar 30.000 ekor sapi untuk populasinya," kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (DP3KP) Kotim, I Made Dikantara di Sampit, Sabtu (16/4/2016).

Untuk mewujudkan swasembada, diakui masih cukup berat. Saat ini populasi di Kotawaringin Timur masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 7.000 ekor, jauh dari jumlah yang diharapkan.

Sebaran populasi peternakan sapi di daerah ini hampir merata di setiap kecamatan. Hanya,  belum ada peternakan berskala besar karena umumnya dilakukan secara pribadi oleh peternak. Itu pun sebagian memelihara sapi hanya sebagai sampingan di sela kesibukan warga sebagai petani.

"Kebutuhan sapi untuk konsumsi daging di daerah kita tiap tahunnya sekitar 6.000 ekor. Produksi peternakan lokal masih rendah, tidak sampai 50 persen. Apalagi ada aturan bahwa yang boleh dipotong hanya sapi jantan, sedangkan betina produktif tidak boleh. Kalau ada pun itu paling sembunyi-sembunyi. Kalau lewat rumah pemotongan hewan pasti tidak akan diizinkan," jelas Made.

Kondisi ini membuat Kotawaringin Timur masih harus mendatangkan sapi dari daerah lain seperti Surabaya, Nusa Tenggara dan Kalimantan Selatan.  (FI/*)