BORNEONEWS. Banjarmasin - Kabar buruk itu datang ketika Teti Elfrida sedang meriung bersama keluarganya. Di ujung telepon, Teti mendengar kabar suaminya, Lambas Simanungkalit, ditembak oleh kelompok yang diduga milisi Abu Sayyaf. Telepon dari perusahaan tempat Lambas bekerja itu membuat Teti seketika terperanjat. 


Ruang tamu yang semula riuh celoteh, sejenak berubah hening. "Kata perusahaan suamiku tertembak di bagian ketiak. Tapi sekarang sudah dirawat di rumah sakit di Malaysia," kata Teti seraya menahan sedih saat ditemui wartawan, Minggu (17/4/2016). 


Ia belum tahu kapan Lambas Simanungkalit, 43, dibawa pulang ke Banjarmasin. Wanita asal Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, cuma berharap Lambas lolos dari masa-masa kritis. Guratan wajah Teti nampak masih dibayangi perasaan cemas. Tak banyak kata yang terucap dari mulut wanita berusia 37 itu.

 

Sebelum peluru bersarang di tubuh Lambas, Teti mengaku tak punya firasat apa pun. “Perasaan saya biasa saja. Tapi saya nggak tahu kronologisnya,” ujar Teti. 


Keluarga Lambas tinggal di Jalan Purnasakti Jalur XI, Komplek Purnama Sari Blok C Nomor 14, RT 35, Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin. Kendati suami terkena musibah, Teti belum berencana menengok Lambas di Malaysia.

 

“Sudah ditangani perusahaan dan kedutaan. Saya harap suami secepatnya pulang dalam kondisi baik dan sehat,” dia berujar.


Lambas memang lebih banyak bekerja di Tarakan. Intensitas kepulangan ke Banjarmasin pun tak menentu. Setahu Teti, tugboat Henry cuma melayani jasa pengiriman batu bara dari wilayah Kalimantan Timur dan Tarakan. Teti belum terpikir untuk melarang Lambas berlayar lagi. 


“Kalau menurut rencana Tuhan baik, kita bilang nggak boleh (berlayar lagi). Makanya saya belum tahu,” ujar Teti.

 

Lambas Simanungkalit, kru bagian oiler, ikut menjadi korban penyergapan milisi Abu Sayyaf di perairan Filipina. Pria kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, itu dikabarkan menderita luka tembak di bagian ketiak. 


Kejadian itu setelah TB Henry dan tongkang Cristy mengirim muatan sebanyak 8.055 metrik ton batu bara. Selepas bongkar muatan di Filipina, TB Henry bertolak menuju Tarakan pada 11 April 2016.

 

Di tengah perjalanan, milisi Abu Sayyaf menyergap kru tugboat Henry. Empat orang warga Indonesia diculik, lima orang dilepaskan, dan satu awak kapal menjadi korban penembakan. PT Global Trans Energy sebagai operator kapal TB Henry. (CR-2/m)