BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sejumlah tokoh pemuda dari Lembaga Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah (LMDKT) Perwakilan Kotawaringin Barat (Kobar) mengancam akan memboikot acara pentas seni dan gelar budaya yang diprakarsai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kobar.
Seorang tokoh pemuda LMDKT Perwakilan Kobar Wendi Cornelius menyebutkan, acara yang disponsori Disbudpar Kabupaten Kobar itu merupakan bentuk mengaburkan budaya Dayak.
"Promosinya menggunakan ikon budaya Dayak, tetapi pentas utamanya kuda lumping. Ini tidak benar," cetus Wendi. Selasa (19/4/2016).
Ia mengaku tidak pernah melarang seni dan budaya dari manapun masuk kabupaten berjuluk Marunting Batu Aji ini. Namun Wendi menolak upaya-upaya pengaburan budaya yang dilakukan panitia penyelenggara.
Meskipun dari empat gelaran mencantumkan satu kebudayaan Dayak, namun kategori budayanya masih dipertanyakan. "Tari pedalaman milik suku Dayak itu banyak, tari mana yang dimaksud tidak jelas," sebutnya.
Seharusnya, lanjut Wendi, pihak penyelenggara berkoordinasi dengan pihaknya terlebih dahulu jika ingin menngunakan ikon Dayak dan menggelar seni budaya Dayak.
"Jadi kami bisa jelaskan, seni dan budaya Dayak itu yang bagaimana. Jangan asal 'pake' label, tetapi tidak jelas acaranya," bebernya.
Sebelumnya, Wendi dan sejumlah tokoh pemuda Dayak sudah melaporkan hal tersebut kepada Bupati Kobar Bambang Purwanto. Termasuk ancamannya akan memboikot acara tersebut.
"Apakah bentuk boikotnya nanti akan menghentikan acara atau bagaimana, kami masih berkoordinasi dengan bupati," terang Wendi.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disbudpar Kobar Gusti Imansyah melalui Kabid Seni dan Perfilman Kartono menjelaskan, penggunaan ikon Dayak pada spanduk hanya karena keterbatasan ruang desain.
"Desain awalnya ingin ditampilkan semua, karena space (ruang) desain terbatas akhirnya kami pilih salah satu ikon," jelas Kartono.
Pihaknya mengaku, acara yang akan dihelat pada 23 April itu merupakan pagelaran rutin Disbudpar Kabupaten Kobar bersama semua sanggar seni dan budaya di Kobar. Tahun ini, pentas seni dan gelar budaya akan berlangsung di Pangkalan Bun Park.
"Ini acara rutin, terkait penolakan (boikot) dari sejumlah pihak akan saya koordinasikan dengan pimpinan. Baru sekali ini terjadi penolakan," tandas Kartono.(CR-1/m)


