BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah warga Kota Sampit, Kabupaten Kotim, terutama yang berada di Jalan MT Haryono Sampit dan Jalan Tjilik Riwut, mengeluhkan jalan berdebu. Kondisi jalan berdebu karena dalam tahap peningkatan jalan dengan agregat bercampur tanah.
Seorang warga, Ernawati, 41, mengatakan, sangat terganggu dengan kondisi jalan yang berdebu, apalagi saat kondisi cuaca sedang terik. Dia berharap peningkatan jalan bisa cepat dilakukan dengan pengaspalan.
“Seharusnya dalam melakukan pengerjaan pihak kontraktor selalu menyiram jalan agar tidak berdebu. Kalau bisa proyeknya cepat dikerjakan agar kondisi jalan berdebu tidak lama,” kata dia, Selasa (19/4/2016).
Debu tanah agregat yang tidak menyehatkan pernafasaan itu pun terkadang mengganggu penglihatan, sehingga jarak pandang jadi lebih pendek.
“Terkadang kalau kita di belakang truk atau mobil yang melaju kencang, kita terpaksa melambat. Karena debu yang naik membuat jarak pandang menjadi pendek,” lanjut Ernawati.
Para pemilik warung juga harus menyiram jalan di depan kios dan warung mereka untuk mengurangi debu. Hal itu dibenarkan Ufik, seorang pemilik kios di Jalan MT Haryono Sampit.
Ia mengatakan, sejak perbaikan jalan dengan pengerasan agregat bercampur tanah sekitar 30 menit sekali dia harus menyiram jalan dengan air di saluran drainase di sisi jalan.
“Kios dan barang jualan kami berdebu. Otomatis ini memengaruhi omzet penjualan. Mungkin saja banyak pembeli yang enggan berbelanja karena barang dagangan berdebu. Kami harus terus menyiram jalan dan membersihkan barang dagangan,” tutur dia.
Kasi Jalan Dinas Pekerjaan Umum Kotim Mentana mengatakan, peningakatan Jalan MT Haryono Sampit karena jalan ini selalu tergenang saat hujan turun. Pengaspalan belum dilakukan karena saat ini masih sering terjadi hujan. Dikhawatirkan pengaspalan tidak maksimal karena daya rekat hilang jika air meresap ke aspal. (RIFQI/m)


