PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Penanaman toleransi antar umat beragama dalam ritual Mamapas Manyadingen Ramu Museum Balanga, memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan. 

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Kalteng Gauri Vidya menyampaikan, hal ini dapat dimanifestasikan saat penyembelihan hewan kurban. 

Walaupun, kegiatan ini dilaksanakan oleh tokoh-tokoh adat Hindu Kaharingan, namun mereka menyiapkan hewan penyembelihan sesuai dengan syariat, yang tujuannya agar saat kurban tersebut dimasak dan disajikan, orang muslim bisa mencicipinya.

"Tidak semua penyelenggaraan tersebut menjadi ekslusifnya Hindu Kaharingan, tetapi di dalamnya ada nilai-nilai toleransi yang ditonjolkan, karena yang hadir nanti dari lintas agama, sehingga tidak lagi bicara kegiatan ini milik Hindu Kaharingan saja," katanya, Selasa, 17 Oktober 2023.

Pada hari terakhir ritual tersebut yaitu Balian Mimbul Takuluk Metu ia mengharapkan ada penanaman pesan positif didalamnya, karena saat kegiatan Mamapas Manyadingen Ramu Museum Balanga antusiasme masyarakat menyaksiksan dari berbagai agama.

"Sehingga menjadi hal penting, mengapa mamapas lewu menjadi warisan budaya dan benda Indonesia. Walaupun dia milik dan diselenggarakan oleh Hindu Kaharingan, tetapi bisa dihadiri dan diikuti oleh pemeluk dari agama lain" ungkapnya.

Ritual yang diselenggarakan setahun sekali ini memberikan pesan positif, terutama mengenai nilai-nilai toleransi dan kebersamaannya ini yang menjadi daya tarik bagi siapa yang ingin melihatnya. 

--page

Selain itu juga, memberikan edukasi, dan sikap toleransi keyakinan-keyakinan oleh pemeluk Hindu Kaharingan. (MARINI/R)