BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah desa harus segera membentuk tim barisan sukarelawan kebakaran (Balakar) serta menyediakan peralatan pemadam kebakaran yang memadai guna mengantisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan.


“Sesuai diinstruksikan oleh Pak Bupati, desa-desa harus mempersiapkan anggaran pembentukan Tim Serbu Api atau balakar dan peralatannya. Beliau juga menginstrukan untuk bias memberikan pelatihan seluruh desa bersama-sama dengan perusahaan besar swasta yang ada di desa itu,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Senddy, Rabu (20/4/2016).


Mengatasi Karhutla bukan hanya tanggungjawab BPBD saja, tetapi juga pemerintah desa dan perusahaan besar swsta. Namun persiapan pemerintah desa masih minim karena banyak desa belum bentuk tim Balakar serta menyediakan alat pemadam.


Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kotim, Sutoyo mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi serta menyurati pemerintah desa untuk membentuk tim Balakar di masing-masing desa.


“Yang sudah membentuk tim Balakar itu seperti Kecamatan Mentaya Hilir Utara semua desa sudah terbentuk. Kalau kecamatan lain banyak yang belum seperti Kecamatan Antang Kalang baru empat desa, Telaga Antang empat desa, Telawang dua desa, Kotabesi empat desa, Seranau tiga desa,” ungkap Sutoyo.


Dari 168 desa di wilayah Kotim, kebanyakan belum ada yang membentuk tim Balakar. Seperti di wilayah Selatan yang meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut. Belum ada satu desapun yang membentuk tim Balakar.


“Belum sampai separuh jumlah desa yang bentuk tim Balakar. Tapi kalau sosialisasi sudah hampir semua desa kita lakukan sosialisasi. Pada saat sosialisasi pun kita hanya memberikan himbauan untuk bentuk tim Balakar, bahkan kami memformat contoh surat dan SK untuk pembentukan Balakar di setiap desa,” ujar Sutoyo.


Meski tahun ini potensi kebakaran kemungkinan berkurang karena musim pancoraba lebih panjang dibandingkan pada 2015 lalu. Namun potensi kebakaran lahan gambut harus tetap diwaspadai. Apalagi wilayah Kotim lahan gambut cukup tebal sehingga jika sudah terbakar sulit untuk dipadamkan.


Potensi kerawanan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kotim hamper di semua kecamatan. Namun yang paling rawan dan sulit dipadamkan yakni wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang dan Kotabesi. Tiga kecamatan itu gambutnya cukup tebal sehingga menyulitkan petugas untuk memadamkan api.


Dari hasil rapat koordinasi BPBD Kotim dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Bandara Haji Asan Sampit, musim hujan diprediksi terjadi mulai Juni hingga Agustus. (RAFIUDIN/m)