KEPUTUSAN tim Ducati mengontak Jorge Lorenzo tergolong berani. Pasalnya tim pabrikan asal Italia itu rela merogoh kocek cukup dalam untuk menggajih pembalap asal Spanyol tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ducati mengontrak Lorenzo dengan durasi dua musim yakni 2017 hingga 2018.
Untuk menggaet juara dunia tiga kali MotoGP itu, Ducati merogoh kocek sebesar €25 juta atau setara Rp372 miliar untuk dua musim. Jumlah itu mengalahkan gaji Valentino Rossi dan Marc Marquez. Sehingga Lorenzo pun dinobatkan sebagai pembalap termahal MotoGP.
Seperti dikutip dari Total Sportek, Rossi dan Marquez merupakan dua pembalap dengan bayaran terbesar musim ini yakni US$10 juta atau setara Rp131 miliar per tahun.
Lalu, apakah nilai kontrak tinggi yang diberikan Ducati untuk Lorenzo bakal mampu mengembalikan performa tim asal Italia itu?
Sejak kali terakhir merebut gelar juara dunia MotoGP pada 2007 bersama Casey Stoner, Ducati gagal bersaing dengan dua tim pabrikan lainnya, yakni Yamaha dan Honda.
Seiring berjalannya waktu, Ducati justru menjelma menjadi tim kelas B di MotoGP. Bahkan pada 2014 tim asal Italia itu masuk kategori tim terbuka di kelas MotoGP. Dengan begitu Ducati bisa memiliki kesempatan mengembangkan sepeda motor Desmosedici dan bersaing dengan motor M1 milik Yamaha dan RC213V Honda.
Untuk tim dengan nama sebesar Ducati, masuk kategori tim terbuka tentu merupakan aib. Tapi apa boleh buat, prestasi yang terus menurun membuat Ducati mengambil keputusan radikal. Termasuk keputusan merekrut X-Fuera--julukan Lorenzo.
Tetapi, keputusan merekrut Lorenzo bisa dibilang sebagai kebijakan yang lebih baik daripada saat mendatangkan Rossi pada 2011.
Pasalnya, bukan karena Lorenzo sedang dalam puncak performa, melainkan Ducati semakin sukses mengembangkan motornya.
Sejak kedatangan Gigi Dall’Igna sebagai direktur umum pada akhir 2013, Motor Desmosedici mampu bersaing dengan Yamaha dan Honda, bahkan unggul di jalur lurus. (ANT/B-3)








