GUBERNUR Kalimantan Se­­latan Sahbirin Noor ti­dak bisa memberikan ke­pas­ti­an menge­nai kelan­jut­an pem­bangunan kons­truk­si bentang te­ngah mega­pro­yek jem­bat­an Kota­ba­ru yang mem­belah Se­lat Laut.

Sahbirin mengaku masih menunggu respons da­ri pemerintah pusat yang akan mendanai me­ga­proyek itu.


“Butuh dana tambah­an Rp2 triliun. Kami ma­sih menunggu pemerintah pusat, saya harap sece­pat­nya,” kata Sahbirin Noor seusai menghadiri Ra­pat Kerja Wilayah (Ra­kerwil) Kantor Kemen­te­rian Agama se-Kali­man­tan Selatan, Rabu (20/4/2016).


Menurut dia, pemerin­tah provinsi telah mem­ba­ngun konstruksi jembatan di sisi Batulicin, Ka­bupaten Tanah Bumbu dan Pulau Laut, Kabu­paten Kotabaru.


Karenanya, ia berha­rap pemerintah pusat ber­kenan menopang ang­garan untuk memba­ngun bentang tengah jem­batan sepanjang 6,5 kilometer.


Pemerintah Kalsel sejati­nya berulang kali mengusul­kan pendanaan kepada pe­merintah pusat, tipi tidak kun­jung ada jawaban.


Sebelumnya, mantan gu­ber­nur Kalsel Rudy Ariffin men­canangkan peletakan ba­tu pertama konstruksi pro­yek pada Juli 2015.


Saat itu, Rudy Ariffin ber­ha­rap jembatan itu bisa men­dorong roda ekonomi Kal­sel, khususnya di Ka­bupa­ten Tanah Bumbu dan Ka­bupaten Kotabaru. Kebu­tuh­an dana proyek ditaksir se­besar Rp3,7 triliun.


Skenarionya, pendanaan ber­asal dari Pemkab Kota­baru dan Tanah Bumbu, ma­sing-masing sebesar Rp250 miliar. Adapun Pemprov

Kalsel mendonasikan Rp500 miliar. Lalu sisanya ber­asal dari pemerintah pu­sat melalui APBN sebesar Rp2,7 triliun. Sema­ngat awal proyek itu untuk merespons kawasan stra­tegis Kotabaru yang di­tetapkan dalam MP3EI.(CR-2/B-3)