KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - WHO Indonesia bersama rombongan Tim dari Dinas Kesehatan Kalteng dan Dinas Kesehatan Kapuas telah melaksanakan kegiatan kunjungan monitoring dan evaluasi (monev) ke RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas.

Kunjungan tersebut dalam rangka monev surveilans Congenital Rubella Syndrome (CRS), surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) dan surveilans Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di RSUD setempat.

Rombongan tim diterima langsung oleh Kepala Bidang Pelayanan Medik, dr Jum,atil Fajar menyambut hangat akan kunjungan lapangan dari WHO Indonesia dan Dinas Kesehatan Kapuas terkait monitoring dan evaluasi pelaksanaan surveilans CRS, PD3I, dan KIPI selaku rumah sakit pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjut satu-satunya di Kabupaten Kapuas.

dr Lina Purnamasari selaku Dokter Spesialis Anak di RSUD Kapuas menyampaikan selama melayani kesehatan masyarakat di rumah sakit, ada beberapa jenis penyakit yang disampaikan dari daftar WHO yang dipantau seperti indikasi Polio atau lumpuh layu mendadak pada anak.

"Diharapkan tindak lanjut yang efektif dari Dinas Kesehatan Kapuas, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, dan WHO Indonesia supaya cepat dan efektif terkait penanggulangan penyakit tersebut apabila terindikasi dan pelaporannya ke bagian rekam medik rumah sakit dapat tepat dan akurat untuk segera pengiriman sampel dan tindak lanjut hasilnya," katanya, Jumat, 27 Oktober 2023.

--page

WHO Indonesia yang diwakili oleh Meuthika N. F. memaparkan bahwa kedatangan Tim ini dalam rangka memantau fasyankes yang terpilih, melihat langsung keadaan lokasi fasyankes, mengecek data rekam medik, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan surveilans CRS, PD3I dan Surveilans KIPI serta untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan surveilans dan mengidentifikasi tantangan dalam pelaksanaannya di RSUD Kapuas.

Sementara, Surveilans Dinas Kesehatan Kapuas, Hari Sutrisno menyampaikan bahwa terkait tindak lanjut dari Dinas Kesehatan seperti pemutusan mata rantai vektor penyakit seperti contohnya nyamuk, sudah pernah dilakukan, antara lain fogging.

Monitoring ke fasyankes seperti puskesmas dan posyandu masyarakat, akan tetapi terkadang masih kurang efektif karena tidak menyeluruh, siklusnya terputus, dan memakan waktu dan biaya yang lumayan.

"Semoga dengan koordinasi terkait monitoring dan evaluasi bersama WHO Indonesia ini, dan bersama Dinas Kesehatan Kalteng serta laporan dari fasyankes RSUD Kapuas ini dapat membantu menurunkan angka kejadian penyakit yang tertera tersebut, sehingga Indonesia dapat tercipta masyarakat yang sehat selalu," pungkasnya. (DODI/H)