PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Widyabasa Ahli Pratama pada Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Ai Gumiar mengatakan, Bahasa Dayak Ngaju dan Bahasa Banjar adalah dua bahasa yang paling mendominasi jumlah penuturnya di provinsi yang memiliki lahan gambut luas ini.

Itu disampaikan Ai dalam sebuah karya tulisnya yang diterbitkan dalam laman Balai Bahasa Kalteng pada Senin, 30 Oktober 2023. 

Menurut Ai, memang seperti miniatur Kalimantan Tengah, Palangka Raya menjelma sebagai Kota Cantik yang dihuni oleh berbagai suku asli, pribumi, Kalimantan Tengah dan pendatang dari berbagai wilayah nusantara dan asing.

"Berbagai bahasa daerah pun hidup dengan subur di Bumi Tambun Bungai ini. Bahasa asli suku pribumi, di antaranya bahasa Dayak Ngaju, bahasa Maanyan, bahasa Bakumpai, bahasa Katingan, bahasa Sampit, bahasa Dayak Siang, bahasa Melayu dialek Kotawaringin, dan bahasa Ot Danum adalah sebagian kecil bahasa yang dituturkan di wilayah ini," tutur Ai lagi.

Sementara itu, lanjutnya, bahasa daerah lain, seperti bahasa Banjar, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda juga tidak kalah subur dituturkan para pendatang.

--page

Meski demikian, bahasa Dayak Ngaju dan bahasa Banjar adalah dua bahasa yang paling mendominasi jumlah penuturnya di provinsi ini. "Bahasa Dayak Ngaju merupakan bahasa yang dituturkan oleh sebagian besar penduduk di Kalteng. Kata dayak sendiri berarti sedikit atau kecil dan ngaju berarti udik atau hulu. Sebagai jati diri etnis Dayak, bahasa Dayak Ngaju ini termasuk rumpun bahasa Austronesia," tuturnya.

Bahasa ini, katanya, dituturkan di hampir seluruh bagian selatan pulau Kalimantan Tengah sehingga bahasa Ngaju memiliki fungsi lingua franca. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI, lingua franca adalah bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi di antara kelompok masyarakat yang mempunyai bahasa yang berlainan.

"Bahasa Dayak Ngaju menjadi bahasa pergaulan suku Dayak di Kalimantan Tengah. Bahasa daerah lain yang cukup masif dituturkan masyarakat di Kalteng adalah bahasa Banjar," tuturnya lagi.

Di Kalteng, lanjutnya, Bahasa Banjar menjadi "bahasa pasar" yang keberadaannya selain sebagai pemerkaya bahasa daerah juga turut mengancam eksistensi bahasa Dayak Ngaju.

"Sebagai bahasa pergaulan, bahasa Banjar lebih dipilih sebagian masyarakat Kalimantan Tengah dalam berbagai tuturan, termasuk generasi muda," katanya.

Kosakata bahasa Banjar dinilai memiliki fonem-fonem yang mirip dengan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu sehingga lebih mudah dipahami dan digunakan.

Sementara bahasa Dayak Ngaju, sebutnya, cenderung memiliki kosakata yang cukup berbeda. "Kosakata dalam bahasa Dayak Ngaju lebih terdengar asing dan sulit untuk dituturkan penutur berbahasa ibu selain bahasa Dayak Ngaju. Meskipun demikian, bahasa Dayak Ngaju masih dipilih sebagian suku Dayak untuk berkomunikasi antarsuku," jelas Ai.

Bahasa Dayak Ngaju juga menurutnya dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal di beberapa sekolah di Kalteng.

Selain itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah melalui program Revitalisasi Bahasa Daerah melakukan upaya pelindungan terhadap bahasa Dayak Ngaju sejak 2022.

"Dengan adanya program ini, bahasa Dayak Ngaju diharapkan dapat lebih berdaya hidup tinggi. Masyarakat, terutama generasi muda, diharapkan lebih meningkat sikap positifnya terhadap bahasa nenek moyang mereka," harap Ai.

Dengan begitu, lanjutnya, bahasa Dayak Ngaju menjadi lebih banyak dituturkan. (TESTI PRISCILLA/Y)