PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Psikolog Ari Pamungkas menjelaskan, masyarakat menjadi korban kejahatan digital, ada beberapa faktor yang menyebabkan antara lain adanya kebutuhan ekonomi, mudah tertarik dengan cepat mengenai penayangan iklan dan promosi, ada perasaan gengsi atau prestise, dan gaya hidup sehingga membuat seseorang tidak berpikir panjang apakah ini benar atau penipuan. 

“Motivasi dan persepsi tentang kebutuhan dan keinginan merupakan hal yang senantiasa memicu individu untuk mengambil sebuah keputusan,” ungkapnya, Rabu, 1 November 2023

Ari melanjutkan adanya keputusan yang berlandaskan pada emosional membuat individu tidak mampu membedakan yang sah atau penipuan, sehingga kemampuannya dalam menganalisis suatu informasi tidak digunakan dengan baik atau kurang terasahnya daya analisisnya menjadikan seseorang tidak memiliki kemampuan analis yang matang. 

“Untuk mengembangkan daya analisisnya maka individu perlu banyak membaca dan belajar dengan baik bagaimana konsep yang hendak ditawarkan kepadanya,” tuturnya.

Ditambah motivasi dirinya untuk segera kaya dan mendapatkan strata sosial yang tinggi membuat seseorang lebih mengandalkan aspek emosionalnya dibandingkan aspek kognitif. 

Manusia juga cenderung percaya bahwa pendapatnya lebih dapat dibenarkan dibandingkan pendapat orang lain, sehingga seseorang akan mengabaikan atau tidak memahami kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan nyata dan kemungkinan terjadinya.

--page

“Malah mencari informasi pada orang yang membenarkan anggapannya tersebut, sambil mengabaikan atau menolak bukti. Hal itu yang membuat informasi himbauan penipuan kurang berefek,”pungkasnya. (APRIANDO/R)