BANYAK pelayanan ke­sehatan, khususnya­ di puskesmas di Pala­ng­ka Raya bermasa­lah. Saat ini selalu saja puskes­mas kurang obat.


Kondisi ini menjadi catatan me­rah Komisi C DPRD Palang­ka Raya. Anggota Komisi C, Subandi geram dengan kenya­taan ini.


Sebab tidak sedikit ko­misi C mengalokasikan anggaran untuk membiayai ke­butuhan kesehatan teruta­ma bagi kalangan miskin. Belum lagi anggaran kapitasi yang didapat dari BPJS Kese­hatan Kota Palangka Raya.


Tapi banyak keluhan di ma­syarakat menyebut saat berobat ke puskesmas banyak yang tidak dapat obat dengan alasan sedang kosong. Aku Su­bandi, kelangkaan obat di puskesmas ini juga menjadi ha­sil temuan saat komisi C cek lapangan.


“Berkaitan pelayanan, se­ha­rusnya tidak ada keluhan­ di puskesmas tidak ada obat karena ada dana untuk mem­be­linya, karena sudah terki­rim­ ke rekening puskesmas,  to­tal sudah terdistribusi Rp25 miliar. Saat kami reses pun, keluhan kelangkaan obat juga kami temukan. Ini salahnya dimana,” tegas Su­bandi, Jumat (23/4/2016).


Dia juga mempertanyakan buruknya pelayanan puskes­mas atau RSUD karena setiap­ pasien datang, selalu yang dipertanyakan petugas adalah su­rat rujukan, bukan penanganan lebih dulu.


Padahal kondisi pasien da­lam kondisi emergency, se­dangkan keterangan yang di­sampaikan dalam rapat ker­ja dengan pihak BPJS, tidak boleh menolak pasien yang kritis.


“Harusnya ditangani dulu, urusan administrasi bisa me­nyusul. Ini kan tidak. Pelayanannya ini yang harus­ diperbaiki agar pasien tidak justru tambah parah gara-ga­ra urus administrasi.”


Kepala bidang Jaminan dan sarana Kesehatan Dinkes Pa­langka Raya, Agustina beralasan kelangkaan obat di puskesmas diakibatkan belum adanya lelang penga­daan obat.


Sebab belum semua obat dirilis oleh LKPP sebagai lembaga penentu pedoman harga obat sesuai e-katalog.


Ia menyebut pengadaan obat sangat riskan, kecuali obat yang tidak ada dalam e-katalog, baru bisa dibeli tanpa menunggu harga LKPP. 

(B-6)