Sejumlah petani atau pemilik kebun karet di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, hilang kesabaran setelah terus merugi. Mereka terpaksa membabat tanaman karetnya untuk ditanami komiditas lain yang hargnya lebih menguntungkan dan menjanjikan.


“Sudah sekitar tujuh bulan ini harga getah karet hanya dihargai pengumpul Rp5 ribu per kilogram (kg). Bahkan, kadang bisa di baswah itu. Padahal, sebelumnya cukup tinggi, yaitu sekitar Rp10 ribu per kg,” kata Irwandi, seorang pemilik kebun karet di Jalan Soekarno-Hatta Kasongan, Karingan, Jumat (22/4) kemarin.


Kerena frustasi harga tak kunjung membaik, Irwandi pun membabat tiga dari lima hektare pohon karetnya. “Yang tiga hektare itu saya ganti dengan tanaman kelapa sawit, yang harganya lebih menjanjikan. Meski kadang juga ada penurunan harga, tetapi tidak lama,” ungkapnya. 


Sejumlah warga Desa Petak Bahandang, Kecamatan Tasik Payawan, Katingan, juga mengganti tanaman karet dengan sawit. “Di desa kami bahkan sudah lama warga menebang tanaman karet untuk diganti sawit,” sebut Nando.


Berimbas ke rotan


Selain kebun karet, tidak sedikit warga yang terpaksa membabat kebun rotannya. “Karena karet dan rotan akhir-akhir ini seperti tidak ada harganya lagi. Bisa dilihat sekarang kalau di pinggir jalan, sekarang banyak tanaman kelapa sawit dibanding karet atau rotan,” imbuhnya. 


Anjloknya harga getah karet sebenarnya juga terjadi secara nasional, termasuk di seluruh Kalteng. Di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), harga dalam kisaran Rp4.500-Rp5 ribu, terjadi sejak 1,5 tahun lalu. 


Menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), penyebab anjloknya harga karena karena mengikuti tren penurunan haarga minyak dunia. Pasalnya, karet sintetis menggunakan bahan baku minyak. Penyebab kedua, adalah melimpahnya pasokan karet mentah, sehingga nilai kompetitifnya melemah. 

(GP/B-1)