BORNEONEWS, Kasongan - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Katingan bakal menjalankan program sungai bebas jamban.
Menurut Kepala Dinkes setempat dr Robertus Pamuryanto, program bebas jamban itu masuk dalam penerapan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
"Program itu bertujuan untuk menurunkan kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku," ungkap Robert kepada wartawan, di Kasongan, Minggu (24/4/2016).
Ia menjelaskan, kegiatan pemicuan STBM pilar 1 yakni stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), yakni guna mengubah perilaku masyarakat yang hidup tidak bersih dan sehat, sehingga berdampak pada kesehatan.
"Diharapkan dari pemicuan ini warganya sudah benar-benar berubah dan desanya menjadi desa yang berprilaku hidup bersih dan sehat, sehingga bisa melakukan deklarasi menjadi Open Defecation Free (ODF) atau dikenal dengan bebas buang air besar sembarangan, karena sudah memiliki jamban atau WC,” terangnya.
Dia optimistis, meski buang air besar di jamban sudah membudaya bagi sebagian besar masyarakat katingan, terutama masyarakat yang bermukim di bantaran sungai, namun jika seluruh komponen masyarakat mau serta serius ingin berubah dan hidup lebih maju maka program STBM ini akan berjalan sukses.
"Bayangkan kalau semua masyarakat kita sudah tidak BAB di jamban, tentu kondisi sungai kita akan lebih berkualitas. Harus ada kesadaran warga untuk menjaga kebersihan dan kesehatan dengan tidak BAB sembarangan. Namun dibutuhkan pola pikir yang maju dan mau berprilaku hidup bersih dan sehat oleh masyarakat," imbuhnya.
"Kalau sudah bebas BAB sembarangan, maka kasus penyakit diare dari tahun ke tahun akan berkurang bahkan diharapkan tidak ada," timpalnya.
Ia menjelaskan lebih lanjut, dalam hal ini pemerintah hanya sebatas melakukan dukungan serta pendampingan kepada masyarakat. Guna mensukseskan program itu, pihaknya juga telah bekerjasama dengan salah satu organisasi dunia yakni Millenium Chalenge Account Indonesia (MCAI).
"Keinginan kita adalah agar masyarakat tidak lagi BAB di sungai, dan bisa beralih dengan membangun kloset atau WC di rumah. Program inipun tentnya kita laku secara bertahap," tutupnya. (HAIRUL SALEH/m)


