PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Kalimantan Tengah (Kalteng), Rini Fortina, mengungkapkan bahwa nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat berkembang biak di air bersih. Faktor-faktor seperti suhu udara yang meningkat, cuaca, dan arah angin juga turut memengaruhi peningkatan populasi nyamuk DBD.

“Untuk mengatasi kasus DBD ini, semua pihak harus siap. Tugas ini tidak dapat dilimpahkan hanya kepada bidang kesehatan, melainkan harus ditangani secara bersama-sama. Masyarakat dan pemerintah perlu berkolaborasi,” ungkapnya, Rabu, 8 November 2023. 

Rini Fortina menjelaskan, DBD selalu ada di lingkungan masyarakat, terutama di tempat-tempat yang kurang menjaga kebersihan. “Perilaku masyarakat yang sering membuang sampah seperti botol mineral yang masih berisi air dapat menjadi sarang bagi nyamuk DBD,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan, pemerintah dapat mendorong para Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk melakukan pemantauan di lingkungan masyarakat dan memberikan edukasi kepada warga untuk membersihkan lingkungan. “Di tingkat lingkungan RT dan sekolah, kita harus lebih berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan,” tegasnya.

Rini Fortina menekankan, yang muda terserang DBD biasanya anak-anak di bawah usia 17 tahun, sangat rentan terhadap penyakit ini. Peran orangtua sangat penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Namun, jika hanya satu keluarga saja yang menjaga kebersihan, tetapi tetangga kita tidak melakukannya, nyamuk DBD tetap akan berkembang biak di sekitar lingkungan kita,” tuturnya.

--page

Orang yang pernah terpapar DBD, tidak menutup kemungkinan, akan terkana lagi. Oleh sebab itu edukasi menjadi kunci penting dalam mengajak masyarakat untuk menjalani pola hidup bersih guna meminimalisir penyebaran nyamuk DBD. Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah, bersama dengan peran aktif Jumantik, diharapkan dapat mengurangi kasus DBD. (APRIANDO/j)