MENGANTISIPASI kembali munculnya bencana kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan seperti pada 2015 lalu, Wakil Bupati Sukamara Windu Subagio mengingatkan seluruh petani untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Pihak pemkab dan kepolisian bahkan TNI dipanggil oleh Presiden (Joko Widodo) untuk membahas masalah kebakaran hutan dan lahan. Karena itu munculah larangan membakar hutan dan lahan sebagai antisipasi kejadian tahun lalu, agar bencana asap tidak terulang lagi,” kata Wakil Bupati, Sabtu (23/4/2016).
Ia melanjutkan, selain membakar lahan, masih banyak cara lain yang bila dilakukan petani untuk membuka lahan. Misalnya dengan bergotong-royong bersama petani lainnya. Menurut dia, bila proses pembukaan lahan dilakukan bersama-sama tentunya akan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah.
“Galakkan lagi kerja sama dalam bertani, karena dengan bekerjasama seluas apapun lahan tentunya bisa diolah tanpa harus membakar,” kata dia.
Sementara itu, Umis, salah seorang petani di Sukamara, mengaku kesulitan jika harus membuka lahan dengan tidak membakar hutan. Pasalnya, selama ini dirinya selalu membuka lahan pertanian dengan cara dibakar.
“Ini (membuka lahan pertanian) jadi sulit karena jika dengan cara membakar hutan akan lebih mudah,” ungkap Umis.
Meski begitu, ia berjanji akan berusaha membuka lahan pertanian dengan cara tidak dibakar sebagai bentuk kepatuhannya terhadap larangan yang dikeluarkan pemerintah.
Hanya, ia mengaku masih kebingungan untuk mengolah lahan yang baru selesai di panen atau masih belum diolah lantaran belum mengetahui metode yang tepat. “Karena ada larangan membakar hutan jadi bingung mau buka lahan karena buka lahan dengan tidak membakar itu sulit bila dibanding dengan membakar,” akunya.
Selain Umis, banyak petani lain di Kabupaten Sukamara merasa kebingungan untuk membuka lahan. Pasalnya sebagian besar petani masih menunggunakan cara lama setiap kali membuka lahan. Cara lama yang dimaksud ialah dengan membakar hutan yang akan dijadikan lahan pertanian. (MG13/B-3)


