PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pendidikan seksual pada remaja sangat penting, hal ini untuk membekali dan menyadarkan anak pentingnya menjaga kesehatan, kesejahteraan dan martabat mereka dengan cara penanaman perlindungan diri, dalam mengembangkan hubungan sosial dan seksual yang baik.

Perkawinan usia anak atau mempelai yang berusia di bawah 18 tahun rentan dengan masalah, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), melahirkan anak yang berpotensi stunting, permasalahan pada organ reproduksi maupun masalah emosional karena memang belum matang secara fisik maupun psikologi. Belum lagi ancaman putus sekolah.

“Kalau hubungan seksual dengan lawan jenis kan itu tadi resikonya, lalu bagaimana kalua hubungan seksual dengan sesame jenis atau LGBT. Apakah sama berbahayanya?,” tanya Cantika, siswi SMAN 3 Pangkalan Bun saat mengikuti Seminar Pencegahan Perkawinan Anak di Aula Patria Tama, Jumat, 10 November 2023, kemarin.

Menanggapi pertanyaan tersebut, dr Martiana Larasati, SpOG menjelaskan, hubungan seksual sesame jenis justru lebih berbahaya.

“Kalau sesame perempuan biasanya menggunakan alat bantu, sedangkan kalau sesama laki-laki biasanya melalui anus. Nah ini justru rawan penyakit menular seksual, bahkan bisa terkena HIV/AIDS,” kata dokter spesialis kandungan itu saat menjadi narasumber pada seminar tersebut.

--page

Dr Martiana menjelaskan tentang seputar Kesehatan Reproduksi.

“Termasuk kalau keputihan yang berlebihan, menstruasi yang tidak teratur, ada yang menstruasi terus menerus, atau justru yang tidak teratur, wajib untuk diperhatikan,” paparnya.

Sementara itu, dr Novera Pembriyani M.BioMed, SpKj pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa permasalahan psikologis yang terjadi pada remaja biasanya karena ada tahapan perkembangan yang terlewati.

“Misalnya, orang yang julid, biasanya karena fase oral yang tidak terpenuhi,” katanya.

Karena ada tahapan-tahapan yang harus dipenuhi, maka Ketika ada anak yang menikah sebelum waktunya akan menimbulkan permasalahan.

“Perkawinan anak bisa memicu terjadinya KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) karena pasangan muda ini belum siap secara finansial, fisik maupun psikologis,” paparnya.

--page

Sehingga bisa memicu banyak masalah, termasuk gangguan psikologi kecemasan, baby blues, dan sebagainya.

Seminar Pencegahan Perkawinan Anak ini merupakan rangkaian kegiatan Peringatan Hari Ibu yang diadakan oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kotawaringin Barat.

Seminar tersebut melibatkan 200 peserta yang terdiri dari siswa SMP/SMA, guru pendamping, dan pimpinan organisasi Wanita di Kobar.

Ketua Panitia Peringatan Hari Ibu, Wina Bayu, mengucapkan terima kasih karena Bunda Forum Anak Kobar Harli Saparia, yang sekaligus sebagai istri Pj Bupati Kobar Budi Santoso mendukung acara tersebut.

“Keberadaan Bunda Forum Anak sangat berarti untuk Bersama-sama mencegah Perkawinan Usia Anak melalui seminar ini,” tuturnya. (DANANG/H)