CRYSTAL Palace men­­jadi penan­tang Manchester Uni­­ted di final Pia­­la FA setelah meraih ke­­menangan 2-1 atas Wat­ford di babak semifinal yang berlangsung di Stadion Wem­bley, Minggu (24/4/2016) malam.


Pertemuan Palace dan Uni­ted di partai puncak Pia­la FA merupakan ulang­an final pada 1990. Saat itu, Palace gagal menjadi jua­ra lantaran kalah pada per­tandingan replay de­ng­an skor 0-1, setelah ber­main imbang 3-3 pada per­temuan pertama.


Manajer Palace Alan Par­dew seusai laga mengata­kan, timnya layak lolos ke final Piala FA karena bermain le­bih baik dari Watford.


“Watford memiliki lima atau 10 menit ketika mereka me­nguasai permainan dan men­cetak gol. Namun kami me­nguasainya selama 80 me­nit dan itu merupakan buk­ti untuk mentalitas para pe­main kami,” kata Pardew, yang mulai menangani Pala­ce pertengahan musim tadi.


“Kami akan memiliki renca­na permainan yang berbeda saat melawan Manchester Uni­ted (di laga final). Namun ti­dak dapat dikatakan bahwa ka­mi tidak bisa mengendalik­an permainan. Kami layak ber­ada di sana,” sebutnya.


Palace boleh jadi tengah ber­gembira seusai masuk fi­nal Piala FA musim ini. Na­mun nasib buruk bisa me­ng­in­tai klub asal London itu di mu­sim berikutnya.


Pasalnya, seperti sudah men­jadi kutukan, klub finalis Pia­­la FA di tiga musim belaka­ngan kerap mengalami nasib ku­rang menguntungkan di kom­petisi yang sama atau pa­da musim berikutnya.


Ambil contoh Wigan Athle­tic, yang sukses mengalahkan Manchester City di final 2012/2013, terdegrada­si di mu­sim yang sama.


Nasib tidak jauh berbeda me­nimpa Hull City, yang tum­bang 2-3 di tangan Arsenal di final 2013/2014. The Tigers harus rela bermain di kom­petisi kasta kedua Liga Ing­gris, seusai finis di posisi 18 di musim berikutnya.


Sementara itu, finalis mu­sim lalu, Aston Villa, yang di­bantai the Gunners 0-4 di laga puncak, seperti ketahui su­dah memastikan diri terjun ke Divisi Championship pas­cakalah 0-1 dari Manches­ter United, beberapa pekan la­lu.


Lantas, apakah nasib seru­pa bisa menerpa Crystal Pala­ce, atau justru Manchester Uni­ted?


Bisa saja. Namun, khusus untuk MU, kemungkinan ba­kal terdegradasi cukup kecil. Mengingat the Reds Devils me­rupakan tim besar yang juga di­sokong dengan bujet besar gu­na memperkuat skuatnya da­ri musim ke musim.


Sedangkan Palace, jika dil­ihat dari tradisi tim, skuat asuh­an Alan Pardew itu pu­nya kans besar untuk me­lorot ke kompetisi kasta ke­dua di musim depan. 

(ANT/Bola.net/B-3)