BORNEONEWS, Palangka Raya - Kasus kematian bayi di Kalimantan Tengah (Kalteng) pada tahun 2020, tercatat paling banyak di banding 2019 dan 2021. Rinciannya, 2019 berjumlah 335 kasus (6.2/1.000KH), 2020 berjumlah 623 kasus (7,8/1.000KH) dan 2021 berjumlah 394 kasus (7,6/1.000KH).
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Kalteng, Suyuti Syamsul, membenarkan hal tersebut. Dia menyampaikan, faktor penyebab kematian bayi karena keterlambatan dalam deteksi dini masalah kesehatan.
"Akibat terlambat deteksi dini masalah kesehatan, masih banyak kehamilan yang tidak direncanakan atau tidak layak hamil. Dengan masih tingginya angka kejadian jumlah kehamilan risiko tinggi, termasuk Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan kehamilan dengan 4 terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat dan terlalu banyak)," katanya, Kamis, 16 November 2023.
Ia melanjutkan, sebagian besar penyebab langsung dari kematian bayi adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asfiksia dan kelainan kongenital.
Sedangkan yang menjadi penyebab tidak langsung antara lain, riwayat komplikasi pada ibu, faktor lingkungan yang tidak sehat, serta faktor pelayanan kesehatan (kualitas pelayanan antenatal).
--page
Hal ini dapat juga dipengaruhi oleh kehandalan dan ketelitian bidan, termasuk kepatuhan ibu hamil melakukan pemeriksaan.
"Deteksi dini kesehatan jangan diabaikan. Hal ini sebagai upaya untuk mencegah kematian bayi," tandasnya. (MARINI/Y)









