BORNEONEWS, Pangkalan Banteng - Harga karet di tingkat petani mulai merangkak naik setelah sempat terpuruk di titik terendah Rp5 ribu. Saat ini harga karet mencapai Rp7.500 per kilogram.
Kenaikan harga karet ini memicu kembali bergairahnya petani di Kecamatan Pangkalan Banteng untuk kembali menggeluti perkebunan karetnya yang sempat ditinggalkan.
Astamani, warga Desa Sidomulya, Desa 8, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat menyampaikan, sejak dua pekan ini harga karet mulai naik. Ia berharap kenaikan harga karet dapat bertahan, atau setidaknya tidak turun kembali. Ia merasa bingung dengan fluktuasi harga. Ini berbanding terbalik dengan komoditas perkebunan seperti sawit yang cenderung harganya stabil.
"Saya bingung, saat ini karet kembali naik, eh tiba-tiba turun kembali. Berbeda dengan sawit yang stabil. Kalaupun turun tidak lama kembali normal," keluh Astamani.
Ia mensiasati ketidakstabilan harga karet dengan melakukan penyimpanan. Saat harga turun ia menahan hasil sadapannya. Namun saat harga karet naik seperti saat in,i ia akan menjual seluruh hasil simpanan karetnya.
"Kalau tidak disiasati rugi. Nah, saat naik seperti sekarang baru saya jual," beber Astamani.
Baru-baru ini, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Kotawaringin Barat, menjelaskan kepada Borneonews, dua komoditas perkebunan yakni karet dan sawit mempunyai serapan kebutuhan berbeda. Ia mencontohkan untuk komoditas sawit serapan di dalam negeri hanya 30%, sementara 70% diserap oleh pangsa luar negeri. Ini berbanding terbalik dengan komoditas karet, justru serapan di dalam negeri mencapai 80%, sementara untuk kebutuhan ekspor hanya 18-20 persen.
"Karet ini serapan untuk di dalam negeri timggi, sehingga apabila luar negeri tidak meminta maka harga akan terus merosot karena terjadi penumpukan stok, ini yang menyebabkan fluktuatif harga karet," terang Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Kobar, saat ditemui Borneonews di ruang kerjanya baru-baru ini. (KOKO SULISTYO/m)


