BORNEONEWS, Gunung Mas - Bukit Samatuan di kawasan Bukit Kaminting wilayah Hulu Sungai Kahayan tertulis dalam Panaturan (Kitab Suci Agama Hindu Kaharingan), sebagai asal mula manusia diturunkan ke bumi oleh Ranying Hatala (Tuhan Yang Maha Kuasa). Sehingga Bukit Samatuan sangat sakral oleh umat Hindu Kaharingan.
Berdasarkan cerita salah seorang masyarakat Desa Tumbang Mahuroi, Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas (Gumas) Todon S Teweng ketika dibincangi wartawan saat kegiatan Pra ekspedisi ke bagian Hulu Sungai Kahayan, Kamis (21/4/2016).
Bahwa Bukit Samatuan merupakan bukit yang sakti bagi orang yang percaya. Pasalnya, saat melihat bukit Samantuan dari dekat terlihat rendah. Namun bila dilihat dari jauh, bukit tersebut paling tinggi ketimbang bukit-bukit yang lain.
Dia menyampaikan, Bukit Samatuan berasal dari bangkai Gajah yang merupakan peliharaan Ranying Hatala dan pada zaman dulu dunia ini masih berupa lautan. Pada saat itu juga ada tiga orang yang hidup bersama Ranying Hatala. Yakni Raja Bunu, Raja Sangen dan Raja Sangiang, ketiga orang tersebut suka bermain-main dihalaman.
Pada saat itu, Raja Bunu, Raja Sangen dan Raja Sangiang mengambil Keris Sanaman Lampang. Kemudian dengan senjata tersebut mereka menusuk Gajah yang merupakan hewan peliharaan Ranying Hatala, sehingga Gajah itu pun mati. Hal itu lah,kata Todon, yang membuat Ranying Hatala marah kepada ketiga orang tersebut.
“Ranying Hatala membuang Gajah hingga jatuh ditengah lautan. Saat kejdian itu dunia ini belum ada. Cerita ini ada dalam Kitab Panaturan (Kitab Suci Agama Hindu Kaharingan),” ujar Todon yang merupakan keturunan dari Damang Pijar.
Menurut dia, dunia baru diciptakan Ranying Hatala setelah Raja Bunu diturunkan ke bumi tepatnya di Bukit Samatuan. Ranying Hatala menciptakan dengan tanah-tanah dan segala yang ada di bumi untuk Raja Bunu bisa mengembangkan anak cucunya.
“Segala kayu-kayu, hutan, obat-obatan diciptakan Ranying Hatala untuk Raja Bunu,” ucap dia.
Dia menyampaikan, Ranying Hatala menempatkan Raja Bunu, Raja Sangiang dan Raja Sangen ditiga tempat yang berbeda. Raja Bunu di bumi, Raja Sangiang di udara antara langit dan bumi dan Raja Sangen di langit.
“Mereka ini ada tempat mereka masing-masing oleh Tuhan yang Maha Kuasa,” terang tukasnya.
Todon menyatakan, menyambut baik kunjungan Bupati Gumas Arton S Dohong beserta rombongan ke bagian hulu Kahayan melakukan pra ekspedisi ke kawasan Bukit Kaminting. Hal tersebut dinilai membawa dampak positif untuk pengembangan situs sejarah serta obyek wisata di bagian hulu Sungai Kahayan.
Selain Bukit Samatuan, salah satu situs yang juga terdapat di bagian hulu Sungai Kahayan yakni Patahu Balangan milik Dambung Mangkurap. Menurut cerita Patahu Balangan berada di Kaleka (perkampungan zaman dulu) Dambung Mangkurap. Menurut Todon, Patahu Balangan merupakan pertahanan kampung-kampung yang ada di tepian Sungai Kahayan.
“Kami yang anak cucunya ini turun-temurun tetap memelihara (Patahu Dambung Magkurap) karena kami ditip pesan sambung menyambung supaya tetap menjaga. Supaya jangan sampai hilang dan rusak karena pada zaman dulu kala jasanya sangat luar biasa,” ucap dia.
Ritual sebelum ke Bukit Simatuan dan Patahu Balanga
Terkait pra eksepdisi Bukit Kaminting yang dilakukan jajaran Pemkab Gumas. Harus melakukan ritual sebelum tim mengunjungi kaki bukit Samatuan dan Patahu Balanga. Ritual tersebut bertujuan untuk meminta izin kepada para penghuni yang ada di wilayah Hulu Kahayan. Sehingga semua kegiatan yang dilakukan tidak terganggu.
Meski rombongan ekspedisi belum bisa mencapai kaki Bukit Samatuan dan Patahu Balangan. Namun tim yang terdiri dari 10 orang telah mencapai dua tempat tersebut. Dan merintis jalan untuk kegiatan ekspedisi yang rencannya dilaksanakan Agustus 2016.
“Ritualnya seperti ini. Setelah ritual oleh orang orang yang bisa melaksanakan ritual Para penghuni di sini menyambut dengan baik dan mereka akan membantu berbagai kegitan yang dilakukan. Kata orang disini ritual ini syaratnya,” tukasnya.
Dalam ritual yang dilakukan disediakan 7 macam bahan-bahan seperti beras ketan yang dimasak dalam bambu, ketupat yang berisi beras ketan. Kemudian, ayam kampung, rokok, tuak, peralatan menginang dan tampung tawar.
“Dengan ritual ini mereka (penghuni didaerah tersebut) menghilangka uji coba dari perjalanan kita,” tukasnya.
Dari perjalanan pra ekspedisi ke bagian Hulu Sungai Kahayan dari 20-24 April 2016. Meski pun tidak sampai ke kaki Bukit Samatuan dan Kaleka Dambung Mangkurap. Banyak pengalaman luar biasa yang diperoleh para peserta pra ekspedisi.
Seperti mandi disungai yang sangat jernih seperti air mineral, menikmati ikan dari hasil memancing yang sangat banyak, menikmati hewan hasil buruan masyarakat sekitar yang dilakukan secara tradisional. Kemudian, menyaksikan bukit-bukit yang tinggi serta pemandangan hutan belantara yang sangat indah serta masih banyak pengalaman menarik lainnya.
Meski pun banyak pengalaman menarik yang diperoleh. Namun untuk bisa mencapai wilayah Hulu Sungai Kahayan. Perjauangan keras harus dilakukan, seperti melewati bukit-bukit yang tinggi dan turunan yang curam yang bisa membahayakan, melewati beberapa titik jalan yang rusak parah. Berada dalam mobil kurang lebih 8 jam dalam keadan cuaca yang panas dan beberapa kendala lainnya. Meski demikian, perjalanan menuju Hulu Sungai Kahayan merupakan suatu hal yang sangat luar biasa. (EPRA SENTOSA/m).


