PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Marselinus Pradana Maestro Borneo Putra, "Petani Milenial" pemilik Maestro Borneo Hidroponik Farm memilih meninggalkan pekerjaan bergaji besar di perusahaan pertambangan untuk menggeluti profesi sebagai petani milenial.

Perlu digarisbawahi bahwa Mersel, sapaan akrabnya, memilih untuk menjadi petani dan bukan keadaan yang memaksanya menjadi petani.

"Di usia saya 26 tahun saya memutuskan berhenti dari pekerjaan di pertambangan dengan gaji 6 jutaan dan memilih untuk menjadi petani hidroponik, itu tahun 2018. Tahun 2017 itu saya bekerja di Kasongan Bumi Kencana yang masih jaya tapi saya memilih untuk berhenti dan mencari peruntungan pada pertanian," kata Marsel kepada Borneonews pada Rabu, 6 Desember 2023.

Marsel menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Workshop Wartawan bertajuk Pers dan Literasi Data Statistik, Mencatat Pertanian Indonesia pada Rabu, 6 Desember 2022.

Menurut Marsel, saat itu dirinya memutuskan untuk menikah namun menilik pekerjaan di sektor pertambangan yang tidak menentu, dirinya mencari alternatif pekerjaan lain yang lebih fleksibel namun tetap dapat memenuhi kebutuhan dapur. Pilihan jatuh pada sektor pertanian, terkhusus pertanian hidroponik.

"Dukungan istri dalam mengembangkan usaha saya ini sangat besar. Sejak menikah kami menggunakan tabungan untuk membangun usaha ini. Pengorbanan istri saya dalam mengurus rumah dan anak membuat saya bisa fokus mengembangkan usaha saya hingga pertanian hidroponik yang saya jalani bisa bertumbuh seperti sekarang," tuturnya.

Pria kelahiran 1 Januari 1992 ini menuturkan bahwa usahanya dimulai dengan tidak mudah. Tiga tahun pertama penghasilan yang didapatkannya tidak bisa disebut menentu. Meski awalnya hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Marsel bersikukuh dengan profesi yang dipilihnya lantaran tidak pernah sampai minus untuk menutupi biaya operasional kebun.

"Kalau sekarang Puji Syukur saya sudah punya pegawai tiga orang. Tiga tahun pertama itu berat tapi memasuki tahun keempat sistemnya, pasar dan metode pekerjaan sudah mulai tertata jadi saya sudah bisa semakin maju," tuturnya lagi.

Saat ini Marsel telah mampu memasarkan produk secara mandiri tanpa perantara.

"Per hari saya harus panen untuk 70 pak per hari, masing-masing 35 pak untuk selada dan 35 pak untuk sawi sendok. Itu tidak bisa putus, setiap hari harus panen segitu karena memang pasar kita setiap hari hari diisi," bebernya.

Bapak dua anak ini menuturkan bahwa untuk pemasaran, dirinya mengisi beberapa rumah makan dan warung-warung sayur kecil di sepanjang 5 Km dari Jalan Rajawali km 8 hingga Jalan Lele, Kota Palangka Raya.

--page

"Pendapatan kotor per bulan saya bisa menghasilkan Rp12 juta hingga Rp15 juta dengan luas lahan 20x40 meter persegi tanah dan 4.000-5.000 lubang tanam," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Eko Marsoro mengatakan bahwa saat ini petani milenial di Kalteng mencapai 82.649 orang.

"Petani milenial di Kalteng yakni antara umur 19 sampai 39 Tahun dengan jumlah 82.649 orang atau 28,71 persen," kata Eko.

Data petani milenial ini menurut Eko dapat menjadi salah satu indikator tingkat regenerasi di sektor pertanian serta menunjukkan pemanfaatan teknologi digital yang diharapkan dapat menciptakan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan.(TESTI PRISCILLA/R)