BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS menyatakan siap memasuki perdagangan karbon Indonesia.
Dalam rangka mendukung upaya pemerintah mencapai target Nationally Determined Contribution atau NDC 2016 atau Enhanced NDC 2022 dan pengendalian emisi Gas Rumah Kaca atau GRK, PT SSMS berkomitmen melakukan percepatan implementasi Nilai Ekonomi Karbon atau NEK.
Chief Sustainability Officer PT SSMS Tbk atau SSMS Group, Henky Satrio W menyampaikan bahwa perkebunan kelapa sawit cukup potensial untuk berpartisipasi dalam perdagangan karbon melalui tiga skema diantaranya konservasi stok karbon, peningkatan karbon stok, dan penurunan emisi dalam produksi.
"Perkebunan kelapa sawit yang di kelola secara berkelanjutan dan ramah lingkungan memiliki potensi menyimpan karbon dalam jumlah yang cukup besar yang dapat menyumbang pada penurunan emisi," kata Henky dalam keterangan resminya pada Kamis, 7 Desember 2023.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, lanjut Henky, SSMS mulai memetakan sumber emisi GRK dan menghitung potensi serapan karbon yang terjadi di lingkup operasional.
"Dalam hal ini, SSMS bekerjasama dengan konsultan eksternal PT Cedar Karyatama Lestarindo atau CKL melakukan perhitungan karbon di salah satu perkebunan kelapa Sawit SSMS Group, PT Mitra Mendawai Sejati," terangnya. (TESTI PRISCILLA/R)









