BORNEONEWS, Palangka Raya - SSMS mulai memetakan sumber emisi Gas Rumah Kaca atau GRK dan menghitung potensi serapan karbon yang terjadi di lingkup operasional. Hal ini disampaikan Chief Sustainability Officer PT SSMS Tbk atau SSMS Group, Henky Satrio W dalam keterangan resminya pada Kamis, 7 Desember 2023.
"Dalam hal ini, SSMS bekerjasama dengan konsultan eksternal PT Cedar Karyatama Lestarindo atau CKL melakukan perhitungan karbon di salah satu perkebunan kelapa Sawit SSMS Group, PT Mitra Mendawai Sejati," kata Henky.
Metodologi penghitungan yang digunakan, lanjut Henky, sesuai dengan ketentuan dari KLHK yaitu melalui pembuatan DRAM atau Dokumen Rencana Aksi Mitigasi dan mendaftarkan dalam paltform Sistem Registrasi Nasional atau SRN sebelum masuk dalam tahapan Validasi dan Verifikasi.
Henky memaparkan secara rinci, SSMS telah melakukan beberapa upaya meminimalkan emisi karbon diantaranya dari sektor energi dan limbah, pengoperasian Methane Capture dan Bio-CNG Plant dengan cara memanfaatkan Palm Oil Mill Effluent atau POME menjadi tenaga listrk dan bahan bakar operasional.
"Dari sektor pertanian, pengurangan emisi melalui substitusi penggunaan pupuk anorganik menjadi pupuk organik," jelasnya.
Semua limbah hasil pengolahan kelapa sawit menurutnya 100 persen digunakan kembali seperti pemanfaatan limbah cair atau POME dan jangkos untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia atau anorganik.
Sementara untuk sektor kehutanan dan tata guna lahan, kegiatan penghitungan karbon sebagai bagian dari Program Blue Carbon Initiative, solusi berbasis alam yang mengacu pada pengelolaan dan penggunaan alam yang berkelanjutan diantaranya perlindungan areal Nilai Konservasi Tinggi atau HCV dan pengelolaan areal konservasi orangutan di Pulau Salat.
Pada kesempatan yang sama, Henky menyampaikan hasil perhitungan serapan karbon dari lima sektor, PT Mitra Mendawai Sejati diperkiraan dapat menurunkan emisi sebesar 345 ribu TCO2e/tahunnya.
"Saat ini, proses implementasi NEK sudah pada tahap validasi Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi," bebernya.
--page
SSMS menargetkan pertengahan tahun depan dapat mengantongi Sertifikat Pengurangan Emisi GRK atau SPE-GRK untuk masuk dalam perdagangan karbon di Indonesia.
"SSMS melihat peluang untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui perdagangan kabon," tuturnya.
Untuk itu, SSMS siap mendukung pemerintah mewujudkan perdagangan karbon di Indonesia.
"Hal ini pun sejalan dengan komitmen pengendalian emisi GRK menuju net zero emmision serta ikut berkontribusi pada komitmen nasional terhadap NDC," tuturnya.(TESTI PRISCILLA/R)









