PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebelum menerbitkan 70 judul buku cerita anak dwibahasa, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah melakukan survei keterbacaan dan menemukan fakta menarik.

"Saya menyoroti fakta menarik yang ditemukan saat survei keterbacaan, yaitu bahwa banyak anak yang tidak terbiasa berbahasa daerah," kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Muis kepada Borneonews pada Senin, 18 Desember 2023.

Pihaknya mengadakan sayembara penulisan cerita anak berbahasa daerah. Beberapa peserta dari 13 kabupaten/kota menurutnya melamar dan disaring untuk mengikuti Bimtek selama 1 minggu.

"Semua yang lolos penjaringan itu diminta untuk menulis, tentu diberikan ilmu menulis, lalu menghasilkan 1 tulisan yang lalu kita terjemahkan dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia," terangnya.

Tim Balai Bahasa Kalteng, lanjut Muis, kemudian melakukan penyuntingan dan ilustrasi, terakhir adalah pencetakannya.

Akhirnya jadi lah buku-buku cerita anak bahasa daerah Dayak dengan sasarannya ialah anak-anak PAUD, TK dan SD.

"Akan tetapi sebelum itu kita terbitkan, buku itu tidak serta merta kita terbitkan tetapi kita lakukan survei keterbacaan," tegas Muis.

Hari pertama pihak Balai Bahasa Kalteng membacakan cerita itu kepada anak-anak usia TK-PAUD apakah mereka mengerti atau tidak, apakah masuk ke kerangka berpikir anak.

--page

Hari kedua survei keterbacaan menurut Muis dilakukan untuk tingkat SD dan ternyata juga bisa dipahami oleh anak-anak ini.

"Perlu saya jelaskan bahwa anak-anak kecil kita itu kebanyakan tidak lagi menggunakan bahasa daerah. Kebanyakan mereka menggunakan bahasa Indonesia, atau malah bahasa Banjar. Tetapi ini tidak apa-apa, bisa menjadi tantangan bagi bapak ibu guru untuk lebih memperdalam ajaran bahasa daerah. Mungkin salah satunya dengan memberikan atau membacakan satu dari 70 judul buku yang kita terbitkan ini," tutur Muis.(TESTI PRISCILLA/R)