PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Muis menyebut bahwa pernikahan beda suku menjadi salah satu faktor yang memicu anak-anak muda atau generasi muda saat ini tidak bisa berbahasa daerah.

"Perlu saya jelaskan bahwa anak-anak kecil kita itu kebanyakan tidak lagi menggunakan bahasa daerah. Kebanyakan mereka menggunakan bahasa Indonesia, atau malah bahasa Banjar," kata Muis pada Senin, 17 Desember 2023.

Fakta ini menurutnya didapati saat Tim Balai Bahasa Kalteng melakukan survei keterbacaan sebelum menerbitkan 70 judul buku cerita anak dwibahasa tahun ini.

"Hal ini sebenarnya dipicu oleh pernikahan beda suku. Sehingga anak-anaknya menggunakan bahasa Indonesia atau malah bahasa Banjar, yang merupakan bahasa suku lain," tutur Muis lagi.

Hal ini perlu diwajari menurutnya. Karena tidak mungkin menggunakan salah satu bahasa daerah jika kedua orang tua memiliki bahasa daerah yang berbeda.

"Kan tidak mungkin kalau ibunya Dayak bapaknya Jawa misalnya lalu di rumah menggunakan bahasa Dayak saja atau bahasa Jawa saja. Pasti akan menggunakan bahasa persatuan," bebernya.

--page

Muis pun mengaku cukup kaget menemukan fakta ini karena sebelumnya Muis mengira ini hanya akan terjadi di kota-kota besar, bukannya kota yang masih kental dengan budaya seperti di Kalimantan Tengah ini.

"Saya kira dulu ini hanya terjadi di kota besar, tapi ternyata tidak, di Kalimantan Tengah pun ini terjadi," katanya lagi.(TESTI PRISCILLA/R)