ANGGOTA DPRD Provinsi Kalimantan Tengah HMAsera melansir kabar menarik. Ia berkisah, rekan bisnisnya yang berasal dariHong Kong berniat melakukan investasi pencetakan sawah seluas 15.000 hektare.  Dan investasi  yang akan dikucurkan mencapai Rp1 triliun.

Cerita tentang cetak-mencetak sawah,memang selalu menarik. Proyek dengan dana besar. Tetapi umumnya hanyalahkebohongan besar.  Skandal cetak sawah  fantastis terjadi di Kalimantan Barat, danmelibatkan menteri BUMN kala itu, Dahlan Iskan.  

Pada saat ia menjabat sebagai menteri, DahlanIskan mengumpulkan dana dari beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti BNI, Askes,Pertamina, Pelindo, Hutama Karya, BRI, dan PGN. Dana yang terkumpul  mencapai Rp317 miliar.

Sebagaimana lazimnya,  dana dipergunakan untuk proyek yang disebutmencetak sawah tersebut. Danapun habis, tetapi wujud sawahnya tidak tampak.

Program atau  proyek cetak sawah juga terjadi di setiapdaerah. Di provinsi-provinsi. Di kabupaten-kabupaten. Tetapi kembali ke soal klasik,dana pencetakan sawah bermiliar-miliar. Tetapi mana sawahnya?

Celakanya, pemerintah sendiri percaya apa yangtertulis di atas kertas.  Dan darisitulah berbagai kalkulasi dilakukan.  Misalnya, dari proyek APBN dan APBD yang sudahdialokasikan, di Kalimantan Tengah tercatat sekian ribu hectare. 

Meski tidak ada wujudnya di lapangan,tetapi dari angka itulah segalanya dihitung. Misalnya, berapa puluh ribu ton bantuan pupuk dan benih yang akan  disalurkan.   Beraparibu liter pestisida yang akan disalurkan. Bahkan berapa ribu unit traktor yangakan diperbantukan.

Ujung-ujungnya, semua itu, bagai dibuangke laut. Tidak ada bekasnya di lapangan. Pupuk, benih, pestisida setelahditerima, dijual kembali oleh para petani. Demikian pula bantuan traktor, meskisudah bertahun-tahun, tetapi traktor itu masih berselimut plastik, alias belum pernahdipakai.

Kembali ke pertanyaan semula. Manasawahnya? Jika pun toh ada sawahnya, mana tanaman padinya? Mana hasil panennya?Kok negeri kita impor terus?

Mudah-mudahan cerita HM Asera bukan kisahyang berakhir dengan kesedihan. Kita ingin ribuan hektare sawah yang menghijau.Kita ingin rbuan hektare panen. Dan kita ingin berkecukupan pangan.