BORNEONEWS, Palangka Raya - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Tengah memprediksi komoditi bawang merah akan menjadi penyumbang inflasi pada tiga bulan ke depan yaitu Mei, Juni dan Juli 2016.
Meskipun April 1016 Kalteng mengalami deflasi 0,56% sebagai akumulasi dari Kota Palangka Raya deflasi 0,25% dan Sampit 0,48%, namun komoditi bawang merah menjadi penyumbang inflasi di dua daerah ini masing-masing 0,18% dan 0,26%.
"Sekarang kita selama empat bulan berturut-turut mengalami deflasi dan penyumbang deflasi juga dari bahan makanan seperti daging ayam ras serta transportasi-komunikasi-jasa keuangan salah satunya bensin. Namun bawang merah menjadi penyebab inflasi di dua daerah ini," ungkap Setian, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bidang Ekonomi Moneter saat memimpin press rilia TPID kepada sejumlah wartawan, Selasa (3/5/2016).
Sementara itu Dewi Erowati, Kepala Seksi Hortikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kalteng menjelaskan, alasan bawang merah menjadi penyebab inflasi bulan ini lantaran dana APBN untuk petani menanam bawang merah di Kalteng belum juga direalisasikan.
"Tahun 2016 ini kan rencana pengembangan lahan budidaya bawang merah di awal tahun kemarin hanya 81 hektare tapi ada revisi penambahan pertanahan menjadi 61 hektare dari dana APBN dan 35 hektare dari dana APBD jadi totalnya 96 hektare," ungkap Dewi Erowati.
Perubahan ini menurutnya mempengaruhi pengadaan bibit dan segala hal terkait budidaya bawang merah. Sehingga prediksi bahwa pada bulan Juni dan menjelang Lebaran Kalteng masih panen bawang merah namun karena ada revisi ini tidak bisa dilaksanakan.
"Sekarang juga masih proses lelang karena dana APBNnya lebih besar dari Rp200 juta. Tapi kami yakin minggu ketiga dan keempat bulan Mei ini dana itu sudah mulai disalurkan ke petani," terangnya.
Namun kendala lain yang muncul menurut Dewi, ada pada petani. Karena pergeseran masa tanam, sehingga sebagian petani memanfaatkan lahan yang seharusnya untuk menanam bawang merah ini dialihkan untuk menanam sayur berumur pendek. Sehingga selama ini Kalteng masih mengandalkan pasokan dari Brebes, sementara di Brebes juga sedang musim hujan dan terserang penyakit.
"Sekarang harga bawang masih di Rp45.000-Rp50.000 per kilogram. Bulan ini kita masih andalkan pasokan dari Brebes. Kalau kita sudah panen kita optimis bisa memenuhi kebutuhan sendiri tapi sampai bulan Juli nanti sementara menunggu panen, prediksi kita bawang merah ini masih akan menjadi penyumbang inflasi," tuturnya.
Ia mengatakan, untuk budidaya bawang merah menggunakan dana APBN ada di Kabupaten Barito Utara 1 hektare, Kapuas dan Kotawaringin Timur masing-masing 30 hektare. Sementara untuk penggunaan dana APBD ada di Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, Seruyan, Palangka Raya, Murung Raya, Pulang Pisau dan Katingan dengan total 35 hektare.
Sutinah, seorang pedagang bawang merah mengakui kualitas bawang merah yang ia jual menurun dari biasanya.
"Kualitasnya kurang bagus. Kecil-kecil dan kering tapi harganya mahal, Rp48.000," tutur Sutinah. (TESTI PRISCILLA/)


