PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Setelah sepuluh tahun menjalani rehabilitasi, karantina, serta pra-pelepasliaran, Cinta, orangutan yang diselamatkan di tahun 2013 lalu akhirnya bisa dilepasliarkan di penghujung tahun 2023 ini.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Kalimantan Tengah bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya atau TNBBBR dalam kerja bersamanya dengan mitra Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo atau Yayasan BOS serta sejumlah pihak lainnya, salah satunya PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS melepasliarkan delapan orangutan ke hutan alami di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya wilayah kerja Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kasongan di akhir tahun ini, salah satunya ialah Cinta. Cinta menjadi salah satu orangutan yang dilepasliarkan di penghujung tahun 2023 ini.

"Cinta adalah orangutan betina yang diselamatkan dari Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah pada 14 Februari 2013. Ia tiba saat masih berusia 4 bulan dengan berat badan 2 kg dan tanpa induk," kata Kepala BKSDA Kalteng, Sadtata Noor Adirahmanta dalam rilisnya pada Jumat, 29 Desember 2023.

Setelah melewati masa karantina, lanjut Sadtata, Cinta bergabung di Sekolah Hutan dan berhasil menyelesaikan seluruh tahapan rehabilitasi di Sekolah Hutan dengan baik.

Pada 7 April 2021, jelasnya, Cinta dipindahkan ke Pulau Pra-Pelepasliaran Salat yang dikelola oleh PT SSMS, anak perusahaan Citra Borneo Indah atau CBI Group, untuk menjalani tahapan terakhir dari seluruh rangkaian rehabilitasi.

--page

"Cinta termasuk orangutan dominan di antara orangutan betina lainnya yang sebaya, Ia pandai bergaul dan gemar menjelajah," jelasnya lagi.

Setelah menjalani proses rehabilitasi panjang, beber Sadtata, Cinta yang kini berusia 11 tahun dan tujuh orangutan lainnya telah siap untuk kembali hidup liar dan bebas di hutan TNBBBR.

Sementara itu, Chief Sustainability Officer, Henky Satrio W mengatakan bahwa dua di antara delapan Orangutan yang dilepasliarkan kali ini l yaitu Cinta yang berusia 11 tahun dan Liti yang berusia 10 tahun memasuki Pulau Pra-pelepasliaran program kemitraan antara PT Citra Borneo Indah atau CBI Group dan Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOSF sejak tahun 2021 setelah menyelesaikan proses rehabilitasi di Sekolah Hutan, Nyaru Menteng.

"Di Pulau Pra-pelepasliaran ini, Cinta dan Liti mematangkan semua keterampilannya menyintas dan mengasah perilaku alami sampai kelak saatnya kembali ke hutan sejati, menyusul 53 orangutan lain yang lebih dulu dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Raya," kata Henky.

Henky menjelaskan bahwa periode pra-pelepasliaran umumnya berlangsung selama satu sampai dua tahun sebelum orangutan dinilai siap dilepasliarkan ke hutan alami. 

--page

"Semakin banyak orangutan dari Pulau Salat yang dikembalikan ke hutan liar menandai keberhasilan Gugusan Pulau Salat sebagai Pulau Pra-Pelepasliaran. Keberadaan pulau ini menjadi terobosan baru dan solusi yang cukup baik dalam upaya menyelamatkan dan melestarikan orangutan yang hampir punah di Kalimantan Tengah," tutur Henky Satrio lagi.(TESTI PRISCILLA/H)