SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Wakapolres Kotawaringin Timur (Kotim) Kompol Yosep Thomas Tortet beberkkan konflik perkebunan di daerah ini karena ketidak puasan masyarakat terhadap perusahaan. Bahkan penjarah datang dengan santainya masuk kebun.

"Kita ketahui sendiri di Kotim, konflik yang terjadi saat ini masih sekitar masalah kebun. Ada beberapa masyarakat yang merasa tidak puas terhadap perusahaan yang tidak memberikan kewajiban kepada masyarakat," kata Wakapolres Kotim Kompol Yosep Thomas Tortet, Minggu, 31 Desember 2023.

Ketidak puasan tersebut membuat sejumlah masyarakat turun ke kebun untuk melakukan panen massal atau panen kaget. Ia menceritakan saat dirinya berada di kebun PT AKPL dan PT AWL selama 8 hari. Penjarah dengan santainya masuk ke wilayah kebun itu.

"Saat saya tanya mau ke mana, meraka menjawab mau panen pak. Jawaban mereka seperti masuk rumah sendiri," ujarnya.

Penjarah ada yang berasal dari Kuayan dan sebagian besar dari Kabupaten Seruyan. Mereka memiliki grup dan saling memanggil untuk masuk ke kebun perusahaan. Jika di salah satu kebun dijaga Polisi-TNI mereka lalu ke perusahaan lain yang tidak ada penjagaan.

"Mereka seperti balon sekali kita tekan 1 keluar lagi di sana seberapa banyak pun anggota di lapangan percuma karena kita ketahui sendiri perusahaan sawit yang ada di Kotim banyak sekali lebih dari 50. Tidak mungkin kita jaga semuanya," tandasnya.

--page

Aparat keamanan menghadapi penjarah yang membawa egrek sedangkan anggota tidak diberi senjata. Jika penjarah berjumlah besar kemungkinan aparat mundur.

Menangani penjarahan ini pihaknya sangat berhati-hati. Karena jika ditindak tegas dengan penangkapan pasti berdampak bergejolaknya keamanan daerah. Sehingga pemerintah daerah harus cepat meminta perusahaan untuk memenuhi kewajibannya agar tidak terjadi penjarahan lagi.

"Saat ini yang masih bermasalah di Kecamatan Telawang di PT SKD dan SBP yang saat ini ditangani anggota," tutupnya. (DEWI PATMALASARI/H)