BORNEONEWS, Barito Selatan - Warga Desa Bundar, Kecamatan Dususn Utara, Barito Selatan (Barsel), mengeluhkan kondisi Sungai Nanyu keruh berwarna putih kecoklatan. Ini diduga akibat aktivitas perusahaan pertambangan batu bara.
Doris, warga desa Bundar mengungkapkan, ini terjadi sejak 2011, atau sejak mulainya penggarapan jalan oleh beberapa perusahaan yakni PT Batubara Duaribu Abadi (BDA) dan PT Hasnur. Akibatnya ratusan warga tidak dapat menggunakan air sungai Nanyu.
Setiap kali hujan turun, warna air pun berubah. Jika semula kemerah-merahan berubah menjadi keruh kecoklatan bak susu coklat.
“Sungai Nanyu digunakan warga untuk mandi, mencuci pakain dan dikonsumsi. Namun saat ini tidak bisa digunakan lagi karena lumpurnya semakin tebal,” kata Doris kepada Borneonews, Jum’at (6/5/2016).
Ia menjelaskan, kedua perusahaan tersebut sebelum beraktivitas tidak pernah sama sekali melakukan sosialisasi Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), khususnya kepada warga Desa Bundar.
Oleh karena itu, lanjut dia, pihaknya meminta kepada instansi terkait untuk memecahkan persoalan ini, jika dibiarkan berlarut-larut masyarakatlah bakal merugi.
“Kami tidak tahu apakah sungai ini tercemar atau tidak. Pihak yang berkompeten tidak pernah memeriksa kadar sungai nanyu ini,” tandasnya.
Ia berharap berharap, kantor dinas terkait secepat mungkin melakukan pengujian terhadap kualitas Sungai Nanyu.
Hal senada diutarakan warga lainnya, Naba. Ia berharap ada solusi dari kedua perusahaan tersebut, sehingga warga tidak kesusahan untuk mandi dan mencuci pakain.
“Kami berharap agar perusahaan paling tidak membuat sumur bor untuk kami. Namun jika perusahaan tidak mengindahkan maka jangan harap mereka bisa melewati daerah desa kami sampai permasalahan ini selesai,” tegasnya. (URIUTU DJAPER/m)


