BORNEONEWS, Sampit - Pelaksanaan Sampit Expo yang digelar pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mendapat sorotan keras dari berbagai kalangan. Sebab, kegiatan tersebut dinilai dipaksakan untuk dilaksanakan meski persiapan belum maksimal.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kotim, Endra Rosana mengatakan, ide pemerintah daerah memindahkan lokasi ekspo terkesan dipaksakan karena lokasi tersebut belum siap untuk diadakan acara Sampit Expo.

“Persiapannya belum maksimal. Pengelolaan Sampit Expo perlu diperbaiki, perlunya koordinasi lintas sektoral. Konsep-konsep yang ditawarkan di tiap stand masih monoton alias tidak menarik,” kata Endra, Minggu (8/5/2016).

Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kotim itu juga menyoroti akses jalan menuju lokasi Sampit Expo yang tidak ada sama sekali penerangan. Padahal diawal rencana kegiatan itu panitia menyanggupi penerangan sepanjang jalan untuk mengantisipasi adanya tindakan kriminal yang belakangan ini marak terjadi di Kotim.

Selain penerangan, jalan menuju lokasi Sampit Expo sangat sempit sehingga terjadi kemacetan cukup parah. Jalan menuju Sampit Expo yang bisa ditempuh hanya kurang lebih lima menit menjadi satu jam akibat macet. Kondisi itu sangat rawan terjadi tindakan criminal karena jalan yang gelap.

“Akses jalan menuju lokasi, penerangan, tempat parkir karena rawan terjadi pencurian dan juga keamanan di setiap stand, karena informasinya tadi malam (kemarin) banyak stand kehilangan barang,” katanya.

Tokoh pemuda Kotim, Zain Fajeri juga menyoroti kegiatan tersebut. Sebab Sampit Expo yang seharusnya menjadi ajang untuk memamerkan kerajinan lokal itu berubah fungsi menjadi pasar rakyat dan pameran otomotif.

Menurutnya, Sampit Expo yang merupakan ajang untuk menampilkan kearifan lokal sudah melenceng. Seharusnya kegiatan itu untuk memamerkan hasil kerajinan daerah, seperti hasil UKM, kerajinan para pemuda, masyarakat dan siswa sekolah-sekolah di Kotim. Tapi yang ada pameran otomotif, pedagang pakaian, layaknya pasar malam. Padahal kegiatan tersebut tujuannya bagaimana menunjukkan kearifan local dengan menampilkan hasil bumi Kotim.

“Ini sudah melenceng toh sehingga terkesan orientasinya duit semata. Baik dikembalikan seperti zaman dulu yakni "pameran pembangunan" kalau yang sekarang ini bukan ekspo yang menonjol tapi pasar malam,” kata Zain.

Dia juga menyesalkan mahalnya pembayaran stand Sampit Expo, sehingga para pelaku UKM dan juga komunitas yang memiliki potensi untuk memamerkan hasil keratifitas dan kerajinan tidak mampu untuk mengikuti kegiatan.

“Contohnya sekolah-sekolah, padahal banyak kerajinan yang dihasilkan oleh sekolah-sekolah yang bias dipamerkan di Sampit Expo, tapi karena standnya mahal dan pemerintah tidak bias memfasilitasi mereka sehingga tidak terekspos keluar,” ucapnya. (RAFIUDIN/m)