PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala UPTD Puskeswan, drh Eko Hari Yuwono mengatakan bahwa hingga saat ini, tidak ada vaksin untuk mencegah ASF bagi ternak babi, sehingga Biosecurity menjadi kunci untuk menyelamatkan ternak babi.

"ASF belum ada vaksinnya, pencegahan hanya dengan biosecurity yang ketat. Tidak ada toleransinya kalau mau berhasil ternak babi untuk saat ini," kata Eko kepada Borneonews pada Sabtu, 13 Januari 2024.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya saat ini menurut Eko hanya bisa mensosialisasikan cara biosecurity yang tepat kepada peternak.

"Dinas hanya bisa mensosialisasikan cara Biosecurity yang tepat, kemudian memberikan desinfektan selama persediaan ada," beber Eko.

Selain itu, DPKP juga menurutnya hanya bisa memberikan layanan pengobatan supportif bila ada laporan peternak.

--page

"Karena ASF ini kalau sudah ada gejala, bisa dikatakan 99 sampai dengan 100% kematian," sesalnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno memberikan penjelasan dan dugaan mengenai penyebab turunnya harga daging babi saat ini.

"Kalau babi masuk dari luar daerah itu tidak terlalu banyak. Mungkin banyak masyarakat kita yang menjual babi karena gejala penyakit ASF beberapa waktu terakhir mulai muncul kembali," kata drh Ganjar.

Karena inilah, lanjut Ganjar, kemungkinan yang membuat stok babi melimpah di kalangan pedagang dan menyebabkan penurunan harga sejak Desember 2023 hingga saat ini.

"Melihat dari hal tersebut ada kemungkinan masyarakat menjual babinya, daripada tidak tertolong.  Analisa sementara demikian," jelasnya. (TESTI PRISCILLA/Y)