BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketiadaan vaksin untuk penyakit ASF yang menyerang ternak babi membuat Kepala UPTD Puskeswan, drh Eko Hari Yuwono menyarankan beberapa hal untuk dapat menekan kerugian yang dapat dialami peternakan babi.
"Saran kita kalau sudah ada yang sakit maka populasinya dihabiskan saja dulu," kata drh Eko kepada Borneonews pada Minggu, 14 Januari 2024.
Penghabisan populasi ini disarankan Eko untuk menekan kerugian yang bisa dialami peternak. Penghabisan populasi menurutnya bisa dilakukan dengan memanen ternak babi lebih cepat, sebelum penyakit menyerang babi yang masih sehat.
"Setelah populasi dihabiskan, istirahat kandang dulu minimal 3 bulan sembari dilakukan desinfeksi baru kemudian.bisa memasuk ternak baru lagi," katanya.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI Provinsi Kalimantan Tengah ini juga menyarankan peternak untuk memasang jaring anti lalat di seluruh kandang.
--page
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno memberikan penjelasan dan dugaan mengenai penyebab turunnya harga daging babi saat ini dari harga Rp120.000 menjadi Rp100.000 per Kg.
"Kalau babi masuk dari luar daerah itu tidak terlalu banyak. Mungkin banyak masyarakat kita yang menjual babi karena gejala penyakit ASF beberapa waktu terakhir mulai muncul kembali," kata drh Ganjar.
Karena inilah, lanjut Ganjar, kemungkinan yang membuat stok babi melimpah di kalangan pedagang dan menyebabkan penurunan harga sejak Desember 2023 hingga saat ini.
"Melihat dari hal tersebut ada kemungkinan masyarakat menjual babinya, daripada tidak tertolong. Analisa sementara demikian," jelasnya. (TESTI PRISCILLA/J)









