BORNEONEWS, Sampit - Hasil panen buah kelapa di daerah selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan. Bahkan penurunan hampir 50% dibanding pada bulan-bulan sebelumnya. Akibatnya saat ini harga kelapa naik dari sebelumnya Rp1.500 per biji, menjadi Rp2.000 per biji.

Fakta ini mendapat sambutan baik dari masyarakat di daerah itu, walupun hasil panen mereka sedang mengalami penurunan.

“Memang harga kelapa sedang naik, tapi hasil panen di kebun kami sangat turun drastis. Sehingga pendapatan bisa dibilang sama saja dari sebelumnya,” ujar Dian Efendi, petani kelapa di Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit, Kotim, Minggu (8/5/2016).

Dian menerangkan, penurunan hasil panen yang dialami pemilik kebun di daerah itu sangatlah signifikan. Dengan luas tanah yang ditanami kebun kelapa 30 x 150, hanya bisa menghasilkan sekitar 1.000 biji kelapa saja. Padahal biasanya bisa mencapai 3.500 biji hingga 4.000 biji.

“Coba kenaikan harga itu terjadi pada saat hasil kelapa banyak, tentu sangat menguntungkan bagi kami,” harap Dian.

Sementara dari keterangan seorang pengepul kelapa, Norr Elman, kenaikan harga kelapa ini akibat dua faktor. Pertama karena stok di Banjarmasin sudah mulai berkurang, dan pasokan kelapa dari petani juga menurun akibat hasil panen kurang. Selain itu, sudah dekatnya bulan suci Ramadan juga menjadi salah satu penyebab naiknya harga kelapa.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap kami menjelang bulan puasa harga kelapa memang mengalami kenaikan. Hal itu terjadi karena banyaknya permintaan. Namun pada 2016 ini naiknya harga juga dikarenakan hasil panen sedang menurun,” ungkap Noor. (HAMIM/m)