BORNEONEWS, Sampit - Hasil pertanian padi di Kabupaten Kotawaringin Timur diperkirakan bakal menurun. Ini karena tingginya kadar air asam mengenangi lahan pertanian sehingga mempengaruhi pertumbuhan padi.
Ketua Gapoktan Sejati Bersama Desa Samuda Kecil Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Jainudin mengungkapkan, meskipun luasan lahan tanam bertambah, namun perolehan hasil gabahnya di perkirakan menurun.
“Dari luasan lahan tanam pada 2015 lalu hanya sekitar 500 hektare. Pada 2016 yang digarap oleh enam poktan sekitar 700 hektare. Tanaman yang subur atau bagus maupun yang kurang subur mencapai 50 banding 50 dan itu semua mencakup unggul nasional ciherang dan unggul lokal siam epang,” kata Jainudin, Minggu (8/5/2016).
Ia mengatakan, kurang subur lahan itu berada di bagian sebelah bawah di tiga lokasi pertanian, karena air hujan dengan bercampur sisa abu menyebabkan kadar asam air tinggi. Seperti di Simpang Pinang, Komplek Pertanian dan Sungai Pemurus. Untuk musim tanam kali ini para petani memperkirakan hanya kembali modal.
Menurutnya, dari perbandingan lahan bertanam padi, untuk unggul nasional varietas ciherang dengan jarak tanam jejerlegowo. Untuk lahan yang subur anakan pohon padi bertumbuh mencapai 30 batang. Jika lahan terkena zat asam tinggi pertumbuhan padi menurun hanya 10-15 batang pohon.
Begitu juga jenis unggul lokal siam epang, jika pengairan lahan bagus tanam 2-3 hijir bibit padi tumbuh bisa menjadi 50 batang pohon anakan. Namun jika kadar asam tinggi pertumbuhannya kerdil dan berkurang hanya 25-30 helai pohon.
Ketua Kelompok Tani Desa Sebamban, Juhriamnsyah juga mengeluhkan kadar keasaman air yang mempengaruhi pertumbuhan padi. Diperkirakan panen tahun ini di desa itu berkurang karena banyaknya hama serta curah hujan yang kurang.
“Biasanya kalau pertumbuhan padi itu bagus bisa menghasilkan gabah kering panen rata-rata mencapai 3-3,5 ton per hektare. Tapi dilihat dari pertumbuhan padi yang terimbas genangan air asam hasil menyusut kira-kira 2 ton hingga 2,5 ton per hektare,” ujarnya.
Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) RA Basuki mengatakan, Fe atau zat besi tinggi gara-gara banjir di hutan sekitar dan zat asam itu mengenangi persawahan tanaman petani sampai berumur 3,5 bulan sehingga pertumbuhan kerdil dan kurang subur. Akibatnya penghasilan gabah berkurang.
“Harusnya sebelum tanam dikasi kapur dulu. Kalau satu hektare lahan setidaknya menyediakan kapur 2 ton. Sekarang tanaman sudah mengurai dan sebentar lagi mau dipanen tidak mungkin lagi melakukan pengapuran,” katanya.
Ia menambahkan, jumlah luasan tanam padi tahun ini bertambah karena lahan eks kebakaran hutan sekitar tahun lalu dimanfaatkan petani menanam padi. Pada 2015 lalu hanya 3000 hektar. Sedangkan pada 2016 ini mencapai 4.353 hektare. Rincinya, untuk padi sawah 2.729 hektare dan padi ladang 1.624 hektare. (RAFIUDIN/m)








