BORNEONEWS, Palangka Raya - Selama 15 tahun lebih warga di Kelurahan Ketimpun, Kota Palangka Raya, tepatnya di tepi Sungai Rungan, menantikan jalan mulus beraspal yang tak putus ketika air pasang. Namun sampai hari ini baru sebagian dari mimpi itu terwujud.
Sekitar 200 kepala keluarga atau 500 jiwa di dua RT yang hidup bermata pencarian sebagai nelayan, selalu kesulitan ketika air sungai naik. jalan satu-satunya, akses mereka ke kota pasti putus terendam.
Saat hal itu terjadi, warga pun terpaksa menggunakan perahu untuk melakukan aktivitas seperti sekolah atau menjual hasil tangkapan.
"Ya, terpaksa naik perahu karena kalau banjir jalan tak bisa dilewati," kata Ketua RT 01 RW 01, Iyul, 48, di Palangka Raya, Minggu (8/5/2016).
Iyul yang sudah semenjak kecil tinggal di wilayah itu mengutarakan, selama 15 tahun terakhir, tiap Musrembang soal jalan selalu diperjuangkan. Baru kali ini kata dia ada tanggapan meskipun tak menyeluruh.
"Baru dua kilometer diaspal, sementara sisanya sekitar dua kilo lagi belum. Sudah 15 tahun dan dalam dua periode kepemimpinan Pak Walikota, baru ini ada sebelumnya kami cuma makan janji saja," papar Iyul, yang juga ayah dari Ferry, si pengelola "Ransel Buku', satu-satunya sarjana di wilayah itu.
Iyul menceritakan, saat jalan putus beberapa hari lalu, rombongan dari Bali yang hendak melihat ransel buku terhalang. Mobil mereka amblas di jalan yang terendam banjir. Selain itu proses mengajar di SDN 16 Ketimpun pun terganggu. Sejumlah guru tak dapat mengakses ke sekolah.
Warga pun sempat membuat jembatan darurat dengan dana swadaya untuk mengantisipasi hal tersebut. "Warga swadaya bangun jembatan titian untuk sepeda motor," unkap Iyul.
Mama Neni, 40, mengatakan, setiap banjir ongkos menuju kota naik dua kali lipat. Sementara penghasilan mereka hanya dari hasil berjualan ikan sungai ke pengepul maupun ke pasar.
Mama Neni berharap, pemerintah kota segera ambil tindakan ketika banjir datang yang diprediksi beberapa hari lagi.
"Ya, kami selaku warga, khususnya yang tinggal di tepi sungai berharap, pemerintah memperhatikan jalan itu, karena itu akses utama, satu-satunya jalan yang menghubungkan kami dengan kota," paparnya.
Dia pun berharap, keluhan ini mendapat tanggapan karena amat ironis jika desa yang hanya sekitar 10 kilometer dari pusat pemerintahan itu kondisinya memprihatinkan. (RONI SAHALA/m)








