PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Mengawali tahun 2024 ini pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya harus berjibaku dengan penyakit African Swine Fever atau ASF yang juga dikenal dengan Virus Demam Babi Afrika.

"Sejak Desember 2023 sebenarnya Palangka Raya sudah diserang ASF lagi. Sejak saat itu juga sampai sekarang kita sudah menerapkan ASF menjadi Kejadian Luar Biasa atau KLB di Kota Palangka Raya," kata Kepala UPTD Puskeswan, drh Eko Hari Yuwono kepada Borneonews pada Kamis, 18 Januari 2024.

Outbreak atau KLB diputuskan, lanjut deh Eko, setelah menilai bahwa dari segi peningkatan kejadian kasus penyakit sudah lebih banyak daripada ekspektasi normal di suatu area atau pada suatu kelompok tertentu, selama suatu periode waktu tertentu.

"ASF belum ada vaksinnya sehingga hanya bisa dilakukan pencegahan dengan menerapkan biosecurity yang ketat. Tidak ada toleransinya kalau mau berhasil ternak babi untuk saat ini," tegas Eko.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat, Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno memberikan penjelasan dan dugaan mengenai penyebab turunnya harga daging babi saat ini.

--page

"Kalau babi masuk dari luar daerah itu tidak terlalu banyak. Mungkin banyak masyarakat kita yang menjual babi karena gejala penyakit ASF beberapa waktu terakhir mulai muncul kembali," kata drh Ganjar.

Karena inilah, lanjut Ganjar, kemungkinan yang membuat stok babi melimpah di kalangan pedagang dan menyebabkan penurunan harga sejak Desember 2023 hingga saat ini.

"Melihat dari hal tersebut ada kemungkinan masyarakat menjual babinya l, daripada tidak tertolong.  Analisa sementara demikian," jelasnya. (TESTI PRISCILLA/j)