BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala UPTD Puskeswan Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono mengatakan bahwa kembali merebaknya kasus African Swine Fever atau ASF yang juga dikenal dengan Virus Demam Babi Afrika memberi kerugian ekonomi kepada peternak.
"Munculnya lagi kasus ASF sejak Desember 2023 sampai sekarang ini tentu merugikan peternak babi di Kota Cantik secara ekonomi," kata drh Eko kepada Borneonews pada Kamis, 18 Januari 2023.
Menurut Eko, kerugian ini sangat dirasakan terutama bagi peternak yang telah merasakan pahitnya kehilangan ternak di awal-awal kemunculan virus ini tahun 2021 dan harus merasakannya kembali saat ini.
"Banyak peternak kita yang tidak bisa bertahan saat ASF pertama kali menyerang di tahun 2021 dulu, bahkan ada yang sampai pensiun jadi peternak karena ternak babinya habis tidak bersisa," jelas drh Eko lagi.
Apalagi, lanjutnya, ASF ini belum ada vaksinnya sehingga satu-satunya cara agar peternak dapat mengurangi kerugian ialah melakukan panen lebih awal dan menerapkan pencegahan dengan Biosecurity ketat.
--page
"Hanya itu caranya, karena vaksinnya belum ada. Maka saran kami kalau sudah ada ternak yang terkena ASF ini, habiskan saja populasinya dulu, jual segera. Setelah itu istirahatkan kandang selama 3 bulan sembari dilakukan pembersihan dengan disinfektan, baru kalau mau beternak lagi bisa dimulai setelah 3 bulan itu," sarannya. (TESTI PRISCILLA/j)









