BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Jalan yang menghubungkan Pangkalan Bun dengan Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam) hingga saat ini masih lumpuh total. Kendaraan roda empat tak ada satuoun yang berhasil melintas. Di kilometer 35 sampai 37 dekat Jembatan Pile Slabe terendam banjir setinggi orang dewasa. Keadaan itu sudah berlangsung sejak Desember 2015.

"Nggak bisa kalau bawa mobil, harus mutar lewat Lamandau," ungkap Titah, warga Pangkalan Bun yang hendak ke Kecamatan Kolam, Senin (9/5/2016)

Untuk melewati genangan banjir dengan oanjang kurang lebih dua kilometer, Titah terpaksa menaikan  menaikan sepeda motornya ke atas getek yang disediakan warga sekitar. "Bayar Rp85 ribu naik geteknya. Rp35 ribu lagi bayar portal di tujuh titik," kata dia

Total, satu kali jalan dari Pangkalan Bun ke Kecamatan Kolam dia menghabiskan dana sekitar Rp120 ribu. Biaya tersebut dinilainya hemat jika dibanding harus melewati jalur putar ke Lamandau.

Rahmat, 35, pemilik travel Pangkalan Bun Kolam mengaku harus memutar arah dari Pangkalan Bun menuju Kolam. Sebab, jalan sepanjang 41 kilometer sudah tak bisa dilalui kendaraan roda empat lebih.

"Kalau muatan penuh terpaksa muter ke Lamandau, kalau sedikit kita transitkan aja di jalan yang banjir itu. Saya minta pemerintah segera memperbaikinya supaya ekonomi masyarakat tidak terganggu," pinta dia.

Pada hari yang sama, rombongan Bupati, SKPD serta unsur Muspida yang akan menghadiri pelatihan karhutla di salah satu perusahaan sawit di Kecamatan Kolam terpaksa menaiki speed boat dari terminal pelabuhan speed di Pangkalan Bun. 1,5 jam jarak temouh hingga sampai ke Kecamatan Kolam.

"Kami naik speed pukul 08.00 pagi, kan lewat jalan darat tidak bisa dilewati kendaraan roda empat," ujar Bupati Kobar Bambang Purwanto.

Sementara itu, Kadis Pekerjaan Umum (PU) Kobar, Agus Yuwono mengatakan, banjir yang menggenangi jalan kolam di kilometer 35 sampai 37 tersebut karena agregat jalan tergerus air saat hujan turun. Sehingga air meluap dan permukaan jalan menjadi turun.

"Itu akan kami cek lagi, nanti kita carikan solusinya," kata Agus.

Menilai hal itu, Kepala DPRD Kobar, Triyanto meminta eksekutif untuk menelaah kembali proses perawatan jalan tersebut. Pasalnya jika dibiarkan untuk ditambahi agregat, maka tidak akan ada ujungnya.

"Kalau ditimbun lagi, habis juga terbawa arus air. Itu harusnya jembatannya diperpanjang supaya permukaan air tidak mengganggu jalan lagi," ujar Triyanto. (CECEP HERDI/m)