BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani atau NTP Tanaman Hortikultura yang disingkat NTPH mengalami penurunan nilai tukar pada Desember 2023 sebesar 1,53 persen.
"Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani atau yang disingkat It menurun 0,94 persen yang tidak dapat menyeimbangi kenaikan indeks harga yang diterima petani yang disingkat Ib sebesar 0,60 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Eko Marsoro pada Jumat, 19 Januari 2024.
Penurunan It pada Desember 2023 menurut Eko disebabkan oleh turunnya It pada kelompok buah-buahan seperti cempedak, semangka, dan pisang sebesar 2,13 persen.
"Sementara kelompok sayur-sayuran seperti cabai rawit dan tomat, juga tamanan obat yakni jahe mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,83 persen dan 0,64 persen," tuturnya.
Peningkatan Ib sebesar 0,60 persen dari 121,58 menjadi 122,31, lanjutnya, disebabkan oleh kenaikan dua kelompok penyusunnya.
--page
"Ini karena kenaikan kelompok indeks konsumsi rumah tangga atau KRT sebesar 0,66 persen dan indeks kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal atau BPPBM sebesar 0,08 persen," jelasnya lagi. (TESTI PRISCILLA/j)









